Lombok Barat -, Tiga warga Desa Rumak di Lombok Barat ditangkap karena diduga teroris. Di antara mereka yang ditangkap terdapat pegawai negeri sipil (PNS) dan mahasiswa.
Kepala Desa Rumak, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) Mukarram, membenarkan tiga warganya ditangkap oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror Mabes Polri, karena diduga terlibat jaringan teroris.
Tiga orang yang diamankan masing-masing berinisial RM, seorang PNS di rumah sakit, M, dan seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Mataram berinisial I. Densus 88 juga mengamankan beberapa barang berupa bendera, panah, dan senjata tajam.
“Dari informasi yang saya terima, yang turun dari Densus 88, katanya ada barang yang disita berupa bendera, yang ditemukan di rumahnya I kemudian ada panah dan parang di rumah RM. Kalau bendera saya kurang tahu yang jelas ada bendera,” ungkap Mukarram, Senin (23/10/2023).
Lebih lanjut Mukarram mengatakan, ketiga warganya yang diamankan oleh Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri, dikenal jarang berbaur dengan masyarakat sekitar. Salah satu di antaranya aktif sebagai guru mengaji.
“Kalau pergaulan dengan masyarakat agak kurang, karena dia aktif seperti itu, kalau malamnya dia mengajar ngaji di rumahnya, kalau bergaul dengan masyarakat itu biasa-biasa saja, karena dia seorang PNS juga jadi dia setiap hari kerja,” ujarnya.
Sementara itu, di mata tetangga, Ahmad Zaini mengatakan, kehidupan RM seperti masyarakat pada umumnya, tidak ada yang aneh, dan tidak menaruh kecurigaan apa pun terhadap RM.
“Kalau kehidupan RM, normal-normal saja, tidak ada yang aneh, di rumah dia bagus, tidak ada kecurigaan apa pun tidak ada apa-apa setahu saya, Kalau pekerjaan sehari-hari, dia kerja di rumah sakit saat piket, ke sawah pagi kalau tidak piket,” ungkapnya.
Ahmad Zaini menambahkan, ia tidak pernah melihat orang yang tidak dikenal di rumah RM, dan hanya diramaikan oleh tetangga sekitar.
“Kalau ke sini tidak ada yang datang, paling cuma tetangga-tetangga saja,” jelasnya.
Zaini menambahkan, RM yang dikenal selama ini, tidak tertutup, bahkan ia sering ikut kegiatan masyarakat, seperti selalu menghadiri jika ada warga sekitar meninggal dunia.
“Kalau di RSUP sebagai perawat, dia tidak tertutup , dia bermasyarakat, kalau ada orang meninggal dunia dia datang melayat, karena dia orang asli sini,” pungkasnya.(Red/tim)