Hacker Klaim Bobol Superkomputer China, 10 Petabyte Data Sensitif Diduga Bocor

Hacker Klaim Bobol Superkomputer China, 10 Petabyte Data Sensitif Diduga Bocor
ejatimnews.com,

Sebuah klaim mengejutkan muncul dari dunia siber setelah seorang peretas mengaku berhasil membobol sistem National Supercomputing Center Tianjin dan mengakses data dalam jumlah sangat besar.

Dikutip dari CNN, Peretas yang menggunakan nama FlamingChina itu menyebut telah memperoleh lebih dari 10 petabyte data yang diduga berisi informasi sensitif dari berbagai sektor strategis.

Data tersebut diklaim mencakup riset teknologi, rekayasa dirgantara, hingga dokumen terkait pertahanan. Namun, hingga saat ini, kebenaran klaim tersebut masih belum dapat diverifikasi secara independen.

Beberapa pakar keamanan siber yang telah meninjau sampel data menyebutkan bahwa isi data tampak autentik dan sesuai dengan jenis informasi yang biasanya diproses oleh pusat superkomputer.

Menurut analis keamanan siber dari SentinelOne, Dakota Cary, skala dan ragam data yang bocor menunjukkan luasnya cakupan layanan pusat tersebut.

Sementara itu, peneliti keamanan siber Marc Hofer menilai bahwa volume data sebesar itu berpotensi menarik perhatian berbagai pihak, termasuk lembaga intelijen global.

Dalam klaimnya, peretas menyebut akses awal diperoleh melalui celah pada sistem VPN. Setelah masuk, mereka menggunakan jaringan botnet untuk mengekstraksi data secara bertahap selama beberapa bulan.

Metode ini memungkinkan pengambilan data dalam jumlah besar tanpa memicu sistem peringatan keamanan secara langsung.

Meski teknik yang digunakan dinilai tidak terlalu kompleks, para ahli menilai keberhasilan serangan ini kemungkinan besar disebabkan oleh kelemahan pada sistem keamanan yang ada.

Jika klaim ini terbukti benar, maka insiden tersebut dapat menjadi salah satu kebocoran data terbesar yang pernah terjadi, sekaligus menyoroti pentingnya penguatan sistem keamanan siber di tingkat nasional.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari otoritas terkait di China mengenai dugaan insiden tersebut. Namun, kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa ancaman siber terus berkembang dan dapat berdampak luas di berbagai sektor strategis.

Belum ada komentar