Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menggelar pertemuan strategis bersama Rektor Universitas Darussalam Gontor, Hamid Zarkasyi, di kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, pada 8 April 2026.
Pertemuan tersebut membahas penguatan ekosistem budaya di pesantren, termasuk rencana aktivasi museum pesantren Gontor serta pengusulan pesantren sebagai warisan budaya takbenda (WBTb) Indonesia.
Dalam diskusi tersebut, Fadli Zon menyampaikan dukungan terhadap pengembangan museum yang mengangkat tema pesantren dan pendidikan Islam. Ia menekankan pentingnya aspek arsitektur, tata pamer, pencahayaan, serta narasi sejarah yang berbasis riset dalam pengelolaan museum.
Sebagai referensi, ia mencontohkan Museum Rahmah El Yunusiyah yang dinilai mampu menghadirkan sejarah Islam secara menarik meski dengan konsep sederhana.
Menurutnya, museum pesantren Gontor berpotensi menjadi model bagi pesantren lain di Indonesia dalam mendokumentasikan sejarah pendidikan Islam. Ia juga menyebut konsep museum berbasis pesantren dapat dikembangkan sebagai “open museum” yang memanfaatkan bangunan atau lanskap yang sudah ada.
Selain itu, Fadli Zon menilai praktik pendidikan di pesantren merupakan bagian dari ekspresi budaya yang layak diusulkan sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.
Ia bahkan membuka peluang agar pesantren dapat diajukan sebagai warisan budaya dunia melalui UNESCO, mengingat nilai historis dan kultural yang dimilikinya.
Sejalan dengan hal tersebut, Hamid Zarkasyi menyampaikan bahwa pesantren Gontor telah menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia selama lebih dari satu abad.
Ia menambahkan bahwa berbagai kegiatan berbasis seni dan budaya, seperti festival musik, film, dan kaligrafi, turut memperkuat posisi pesantren sebagai pusat kebudayaan.
Pertemuan ini juga dihadiri sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Kebudayaan, yang turut membahas langkah strategis dalam pelestarian budaya pesantren.
Menutup pertemuan, Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga dan melestarikan kearifan lokal pesantren melalui berbagai program, termasuk revitalisasi bangunan bersejarah dan situs-situs penting penyebaran Islam di Indonesia.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi pesantren sebagai bagian penting dari identitas budaya nasional sekaligus meningkatkan pengakuan di tingkat global.






Belum ada komentar