Menteri LH Apresiasi Pengelolaan Lingkungan Surabaya

Menteri LH Apresiasi Pengelolaan Lingkungan Surabaya
ejatimnews.com,

Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, memberikan apresiasi terhadap upaya Pemerintah Kota Surabaya dalam menjaga kualitas lingkungan hidup.

Menurutnya, berbagai kebijakan yang diterapkan membuat Kota Pahlawan menjadi salah satu daerah dengan sistem pengelolaan sampah yang berjalan baik dan berkelanjutan.

Penilaian tersebut disampaikan saat ia menghadiri apel bersama dan kegiatan kerja bakti pembersihan Sungai Kalimas yang diikuti ribuan warga.

Momentum tersebut sekaligus menjadi gambaran nyata bagaimana partisipasi masyarakat dan pemerintah daerah berjalan beriringan dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Apresiasi Menteri LH untuk Kepemimpinan Eri Cahyadi

Dalam kesempatan tersebut, Hanif Faisol menilai kepemimpinan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memiliki peran penting dalam menjaga konsistensi kebijakan pengelolaan lingkungan di kota terbesar kedua di Indonesia itu.

Ia menyampaikan bahwa Surabaya merupakan salah satu kota yang mampu menunjukkan kinerja baik dalam pengelolaan lingkungan hidup, terutama dalam penanganan sampah perkotaan. Bahkan, menurutnya sistem pengelolaan sampah Surabaya dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.

Hanif juga menilai komitmen pemerintah kota dalam menjaga lingkungan terlihat dari berbagai program yang melibatkan masyarakat secara langsung. Kepemimpinan Eri Cahyadi dinilai mampu mendorong budaya kepedulian terhadap lingkungan di tengah masyarakat.

Ia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah kota atas konsistensi tersebut, seraya menilai Surabaya berhasil menjaga kualitas lingkungan di tengah perkembangan pembangunan yang terus meningkat.

Ribuan Warga Terlibat dalam Kerja Bakti Sungai Kalimas

Kegiatan kerja bakti yang digelar di sepanjang Sungai Kalimas menjadi salah satu bukti kuat tingginya kepedulian warga terhadap kebersihan lingkungan. Dalam kegiatan tersebut, ribuan warga dari berbagai unsur turut berpartisipasi membersihkan kawasan sungai dan ruang publik.

Data yang dihimpun menunjukkan lebih dari tujuh ribu masyarakat terlibat dalam kegiatan korve yang dilaksanakan di sejumlah titik di Surabaya. Partisipasi tersebut menjadi indikasi bahwa kesadaran menjaga kebersihan mulai tumbuh kuat di tengah kehidupan masyarakat kota.

Menurut Hanif Faisol, partisipasi besar dari warga menunjukkan bahwa pembangunan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan peran aktif masyarakat.

Ia juga menyebut Surabaya sebagai kota yang memiliki peran penting dalam mendorong pembangunan nasional. Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, Surabaya tetap mampu mempertahankan kualitas lingkungan yang baik.

Sistem Pengelolaan Sampah Dinilai Efektif

Keberhasilan Surabaya dalam menjaga lingkungan juga tercermin dari sistem pengelolaan sampah yang dinilai berjalan efektif. Kota dengan jumlah penduduk hampir empat juta jiwa itu diketahui menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah setiap hari.

Namun, sebagian besar sampah tersebut telah ditangani melalui sistem pengelolaan yang terintegrasi. Salah satu pendekatan yang dinilai berhasil adalah penerapan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga.

Hanif menjelaskan bahwa pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya merupakan metode yang paling efektif. Dengan pemilahan yang dilakukan secara konsisten, sampah tidak hanya dianggap sebagai limbah, tetapi juga dapat dimanfaatkan kembali menjadi sumber daya ekonomi maupun energi.

Konsep tersebut sejalan dengan berbagai program lingkungan yang terus dikembangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya dalam beberapa tahun terakhir.

PLTSa Benowo Jadi Contoh Pengolahan Sampah Modern

Selain sistem pengelolaan berbasis masyarakat, Hanif Faisol juga menyoroti keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo yang telah beroperasi di Surabaya. Fasilitas ini mampu mengolah sampah menjadi energi listrik dan menjadi salah satu contoh inovasi pengelolaan sampah di Indonesia.

Program konversi sampah menjadi energi tersebut merupakan gagasan pemerintah pusat yang mulai diperkenalkan sekitar satu dekade lalu dan kini terus dikembangkan oleh pemerintah daerah.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sekitar 800 ton sampah per hari yang menjadi pekerjaan rumah untuk ditangani. Karena itu, pemerintah pusat bersama pemerintah kota tengah menyiapkan rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah tambahan.

Jika rencana tersebut terealisasi, Surabaya nantinya akan memiliki dua fasilitas pembangkit listrik berbasis pengolahan sampah yang dapat memperkuat sistem pengelolaan limbah perkotaan.

Kualitas Udara Surabaya Dinilai Masih Baik

Tidak hanya dari sektor pengelolaan sampah, Menteri Lingkungan Hidup juga menilai kualitas udara di Surabaya masih terjaga dengan baik. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian emisi di kota ini berjalan cukup efektif.

Menurutnya, keberhasilan menjaga kualitas lingkungan merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, komunitas hingga masyarakat.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan bahwa kegiatan kerja bakti di sepanjang Sungai Kalimas merupakan bagian dari upaya memperkuat budaya kebersihan di Kota Pahlawan.

Ia menjelaskan kegiatan tersebut diikuti ribuan peserta yang tersebar di beberapa titik lokasi. Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah untuk memperkuat transformasi pengelolaan sampah dari pola lama “kumpul–angkut–buang” menuju sistem pengurangan sampah dari sumbernya.

Eri menambahkan, kunjungan Menteri Lingkungan Hidup memberikan motivasi tambahan bagi warga Surabaya agar terus konsisten melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.

Ke depan, Pemerintah Kota Surabaya juga berencana menjadikan kegiatan kerja bakti sebagai agenda rutin setiap hari Jumat. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga kebersihan kota sekaligus memperkuat budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat.

Ia menegaskan bahwa menjaga kebersihan kota bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan harus menjadi gerakan bersama seluruh warga Surabaya.

Belum ada komentar