Pemkot Surabaya Jaga Stabilitas Harga Pangan Jelang Lebaran

Pemkot Surabaya Jaga Stabilitas Harga Pangan Jelang Lebaran
ejatimnews.com,

Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat berbagai langkah untuk menjaga stabilitas harga pangan di tengah dinamika inflasi yang terjadi pada awal tahun 2026. Berbagai program intervensi pasar dijalankan agar pasokan bahan pokok tetap tersedia sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Upaya pengendalian ini dilakukan melalui sejumlah program seperti pasar murah, operasi pasar, hingga pemantauan harga secara rutin di pasar tradisional. Pemerintah kota juga menggandeng berbagai pihak untuk memastikan distribusi bahan pangan tetap lancar di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Kota Surabaya Vykka Anggradevi Kusuma menyampaikan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik, tingkat inflasi Surabaya secara tahunan atau year on year (y-on-y) pada Februari 2026 tercatat berada di angka 5,11 persen.

Menurutnya, angka tersebut masih sejalan dengan kondisi inflasi yang juga terjadi di tingkat provinsi maupun nasional pada periode yang sama.

Inflasi Surabaya Masih Dalam Batas Aman

Meski angka inflasi tahunan terlihat cukup tinggi, pemerintah kota menilai kondisi inflasi Surabaya sebenarnya masih terkendali jika dilihat dari indikator lainnya, yakni perhitungan year to date (y-to-d).

Vykka menjelaskan bahwa jika dihitung sejak awal tahun, inflasi Surabaya masih berada di bawah satu persen. Angka tersebut dinilai masih berada dalam kategori aman bagi stabilitas ekonomi daerah.

“Secara year on year memang berada di angka 5,11 persen. Namun jika dilihat dari perhitungan year to date, inflasi Surabaya masih sekitar 0,83 persen,” ujarnya.

Kendati demikian, pemerintah kota tetap mengambil langkah antisipatif karena inflasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selain harga bahan pangan, sejumlah komoditas lain seperti emas maupun tarif transportasi udara juga dapat memicu kenaikan inflasi.

Karena itu, Pemkot Surabaya terus melakukan berbagai upaya pencegahan agar gejolak harga tidak berdampak signifikan terhadap masyarakat.

Program Pasar Murah dan Operasi Pasar Diperkuat

Sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi, pemerintah kota mengintensifkan sejumlah program stabilisasi harga. Program tersebut antara lain Pasar Murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), serta operasi pasar di berbagai wilayah.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan pangan tetap terjaga sekaligus menekan kenaikan harga di tingkat konsumen.

Selain itu, pemerintah kota juga rutin melakukan inspeksi mendadak ke pasar tradisional dan distributor untuk memantau pergerakan harga sekaligus memastikan tidak terjadi penimbunan barang yang dapat memicu lonjakan harga.

Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah di tengah dinamika pasar yang terus berubah.

Emas dan Tiket Pesawat Jadi Penyumbang Inflasi

Vykka mengungkapkan bahwa penyumbang inflasi terbesar di Surabaya dalam beberapa bulan terakhir bukan berasal dari kelompok bahan pokok. Justru komoditas emas dan tarif angkutan udara menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan inflasi.

Menurutnya, lonjakan harga emas serta meningkatnya tarif transportasi udara memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi di Kota Surabaya.

Ia juga memperkirakan sektor transportasi udara masih berpotensi memberikan tekanan inflasi menjelang masa libur Lebaran 1447 Hijriah.

Hal tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan perjalanan udara selama periode mudik dan libur panjang.

“Pada Januari hingga Februari 2026, penyumbang inflasi terbesar berasal dari angkutan udara. Kemungkinan menjelang Lebaran kontribusinya masih akan meningkat,” jelasnya.

Harga Cabai Naik karena Faktor Cuaca

Sementara itu, pada kelompok bahan pangan, salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga adalah cabai. Kondisi ini terjadi dalam beberapa bulan terakhir dan dipengaruhi oleh faktor cuaca.

Musim hujan yang berlangsung cukup lama berdampak pada produksi dan distribusi cabai di sejumlah daerah penghasil. Akibatnya, harga cabai di pasar mengalami kenaikan.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah kota bekerja sama dengan Pasar Induk Surabaya Sidotopo (PISS) dalam penyediaan komoditas cabai dengan harga yang lebih terjangkau.

Melalui program pasar murah dan GPM, masyarakat dapat membeli cabai dengan harga yang lebih stabil dibandingkan harga pasar pada umumnya.

Stok Beras Dipastikan Aman

Selain cabai, pemerintah kota juga terus memantau perkembangan harga beras, khususnya beras premium yang memiliki tingkat konsumsi cukup tinggi di masyarakat.

Untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok, pemerintah kota bekerja sama dengan Bulog dalam penyediaan beras program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP).

Program tersebut bertujuan agar masyarakat tetap dapat memperoleh beras dengan harga yang terjangkau di tengah fluktuasi harga pasar.

Saat ini harga beras premium di Surabaya masih tergolong stabil dan belum menunjukkan lonjakan signifikan. Rata-rata harga komoditas tersebut berada di kisaran Rp16.000 per kilogram.

Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Surabaya berharap stabilitas harga pangan dapat terus terjaga sehingga inflasi tetap terkendali dan tidak membebani masyarakat.

Belum ada komentar