Peringatan HGN ke-66, Pemerintah Ajak Masyarakat Penuhi Gizi

Peringatan HGN ke-66, Pemerintah Ajak Masyarakat Penuhi Gizi
ejatimnews.com,

Dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66, Kementerian Kesehatan RI kembali menegaskan pentingnya pemanfaatan pangan lokal sebagai strategi utama dalam pemenuhan gizi seimbang masyarakat.

Melalui tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal”, pemerintah mendorong pola konsumsi yang sehat, terjangkau, serta selaras dengan kearifan budaya setempat.

Pesan tersebut disampaikan dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes pada Rabu (5/2).

Peringatan HGN tahun ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk memperbaiki pola konsumsi guna menghadapi tantangan gizi yang semakin kompleks.

Hadapi Tiga Masalah Gizi Sekaligus

Momentum Hari Gizi Nasional ke-66 juga menyoroti fenomena triple burden of malnutrition di Indonesia. Kondisi ini mencakup tiga permasalahan gizi yang terjadi secara bersamaan, yaitu kekurangan nutrisi, kelebihan nutrisi, serta kekurangan zat gizi mikro.

Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, Lovely Daisy, memaparkan bahwa tantangan gizi masih menjadi pekerjaan besar.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, satu dari lima balita di Indonesia masih mengalami stunting. Selain itu, sebanyak 37,8 persen orang dewasa tercatat mengalami kelebihan berat badan atau overweight.

Pola Konsumsi Masih Kurang Beragam

Menurut Daisy, kondisi tersebut diperparah oleh pola makan masyarakat yang belum beragam. Data menunjukkan bahwa 96,7 persen masyarakat Indonesia masih kurang mengonsumsi sayur dan buah.

“Oleh karena itu, melalui slogan ‘Sehat Dimulai dari Piringku’, kami mengajak masyarakat untuk menerapkan konsep Isi Piringku dengan memanfaatkan pangan lokal yang kaya nutrisi,” ujar Lovely Daisy.

Pangan Lokal Dinilai Lebih Unggul

Pentingnya pemanfaatan pangan lokal juga diperkuat oleh pandangan Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB, Profesor Rimbawan.

Ia menyampaikan bahwa pangan lokal memiliki keunggulan komparatif dibandingkan pangan impor.

Menurutnya, pangan lokal cenderung lebih segar karena rantai pasok yang lebih pendek, mudah diakses oleh masyarakat, serta memiliki harga yang lebih terjangkau.

Selain berkontribusi terhadap pemenuhan gizi, konsumsi pangan lokal juga memberikan dampak ekonomi bagi petani serta memperkuat identitas budaya.

Dampak Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak

Sementara itu, Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyoroti dampak serius dari pola konsumsi tinggi Gula, Garam, dan Lemak (GGL).

Konsumsi GGL berlebih, terutama di wilayah perkotaan, menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.

“Kajian bersama BPOM menunjukkan bahwa penyelarasan kebijakan pengendalian asam lemak trans dan reformulasi makanan berpotensi mencegah 310 ribu kematian serta 580 ribu kasus penyakit jantung.

Pengaturan batas maksimum GGL dan penerapan label pangan menjadi langkah penting yang terus kami dorong,” tegas Nadia.

Fondasi Pembangunan SDM Sehat

Peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 diharapkan menjadi momentum kolaborasi seluruh pihak untuk menjadikan gizi seimbang berbasis pangan lokal sebagai fondasi dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat, produktif, dan berdaya saing.

Informasi ini disampaikan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI.

Masyarakat dapat memperoleh informasi lebih lanjut melalui layanan Halo Kemenkes di nomor 1500-567 atau melalui alamat email resmi Kemenkes.

Belum ada komentar