Iran menjadi sorotan dunia internasional seiring gelombang protes nasional yang terus berlanjut dan meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat.
Posisi strategis Iran di Timur Tengah, kedekatannya dengan Rusia dan China, serta program nuklirnya menjadikan negara ini aktor penting dalam dinamika politik global.
Posisi Strategis Iran di Jalur Energi Dunia
Iran memiliki letak geografis strategis di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Selain itu, negara ini juga memiliki cadangan minyak dan gas yang besar, ambisi politik regional, serta program nuklir yang selama bertahun-tahun menjadi sumber ketegangan dengan Barat.
Dengan populasi sekitar 93 juta jiwa dan mayoritas penduduk beraliran Syiah, Iran menjadi pemain utama di kawasan Timur Tengah.
Protes Nasional Tantang Pemerintahan Teheran
Selama lebih dari dua pekan terakhir, Iran dilanda aksi protes nasional yang awalnya dipicu persoalan ekonomi, namun berkembang menjadi penolakan terhadap pemerintahan di Teheran.
Pemerintah Iran secara resmi menuding pihak luar, khususnya Amerika Serikat dan Israel, sebagai dalang di balik gelombang demonstrasi tersebut.
Trump Klaim Iran Siap Bernegosiasi
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran disebut siap melakukan negosiasi dengan pemerintahannya.
Pernyataan itu disampaikan Trump pada 11 Januari, di tengah memburuknya situasi keamanan di Iran.
Hubungan Iran dan AS telah membeku sejak Revolusi Islam 1979 dan pendudukan Kedutaan Besar AS di Teheran.
Sejak saat itu, hubungan kedua negara diwarnai permusuhan ideologis, sanksi ekonomi, ketegangan keamanan, serta sengketa program nuklir.
Isu Nuklir dan Ancaman Intervensi Militer
Program nuklir Iran tetap menjadi titik konflik utama dengan negara-negara Barat. Trump kembali melontarkan ancaman intervensi militer jika aparat keamanan Iran terus menggunakan kekerasan untuk membungkam demonstrasi.
Lembaga pemantau HAM berbasis di AS memperkirakan sedikitnya 2.000 demonstran telah tewas sejak protes dimulai. Kondisi ini sulit diverifikasi sepenuhnya akibat pemutusan akses internet nasional sejak 9 Januari.
Tekanan Eksternal Dinilai Berisiko
Analis Timur Tengah berbasis di Washington, Fatemeh Aman, menilai tekanan eksternal terhadap Iran tidak selalu melemahkan kekuasaan, bahkan bisa berdampak sebaliknya.
Ancaman dari luar berpotensi dijadikan alasan oleh pemerintah Iran untuk memperketat keamanan, memperluas penindakan terhadap demonstran, serta meredam konflik internal elite kekuasaan.
Stabilitas Kawasan Jadi Kekhawatiran Negara Teluk
Negara-negara Teluk Arab memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas kawasan dan menghindari eskalasi militer.
Serangan terhadap Iran berisiko memicu balasan terhadap puluhan pangkalan militer AS di wilayah sekitar.
Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Teluk berupaya menyeimbangkan penguatan militer dengan pendekatan diplomasi untuk menurunkan ketegangan dengan Iran.
Rivalitas Regional dan Peran China
Persaingan Iran dan Arab Saudi sempat memuncak pada 2019 setelah serangan terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco.
Namun, belakangan kedua negara memulai pendekatan diplomatik dengan China sebagai mediator.
China memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas Timur Tengah karena ketergantungannya pada pasokan energi dari kawasan tersebut, termasuk impor minyak dari Iran meski ada sanksi AS.
Rusia dan Dampak Geopolitik Iran
Selain China, Rusia juga menjadi sekutu utama Iran. Para pengamat menilai Moskow memiliki kepentingan besar mempertahankan pemerintahan Iran saat ini.
Perubahan rezim di Teheran dinilai berpotensi mengganggu kepentingan strategis Rusia di kawasan dan hubungan geopolitiknya secara global.














Belum ada komentar