Saif al-Islam Gadhafi, putra mantan pemimpin Libya Moammar Gadhafi, dilaporkan tewas dalam sebuah dugaan pembunuhan di kediamannya di kota Zintan, Libya barat laut, pada Selasa. Informasi tersebut disampaikan oleh kepala tim politiknya. Saif al-Islam Gadhafi meninggal dunia pada usia 53 tahun.
Kronologi Dugaan Pembunuhan di Zintan
Menurut pernyataan penasihat politiknya, Abdullah Othman, empat orang bersenjata bertopeng menyerbu rumah Saif al-Islam Gadhafi. Para penyerang tersebut terlebih dahulu melumpuhkan kamera pengawas sebelum menembaknya hingga tewas dalam serangan yang disebut sebagai tindakan keji dan penuh pengkhianatan.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Libya terkait peristiwa tersebut. Selain itu, International Criminal Court (ICC) juga belum memberikan komentar resmi atas laporan kematian tersebut.
Latar Belakang Politik Saif al-Islam Gadhafi
Lahir di Tripoli pada 25 Juni 1972, Saif al-Islam Gadhafi merupakan putra kedua dari Moammar Gadhafi, penguasa Libya yang memerintah sejak 1969 hingga digulingkan dan tewas pada 2011. Selama bertahun-tahun, Saif al-Islam dipandang sebagai calon penerus kekuasaan ayahnya.
Pada 21 Februari 2011, di tengah meluasnya gelombang protes Arab Spring di Libya, Saif al-Islam menyampaikan pidato televisi yang memperingatkan ancaman perang saudara, kekacauan, dan kemiskinan jika demonstrasi terus berlanjut. Pidato tersebut menandai perubahan sikapnya dan menunjukkan dukungan terbuka terhadap tindakan keras rezim terhadap para demonstran.
Kasus ICC dan Masa Penahanan
Pada Juni 2011, ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Saif al-Islam Gadhafi dan ayahnya atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan selama penindasan pemberontakan.
Setelah jatuhnya Tripoli, Saif al-Islam sempat menghindari penangkapan selama beberapa bulan sebelum akhirnya ditahan oleh sebuah milisi di Zintan pada November 2011. Ia tetap berada dalam tahanan hingga Juni 2017, ketika milisi tersebut mengumumkan pembebasannya berdasarkan undang-undang amnesti umum yang kontroversial.
Kembalinya Saif al-Islam ke Panggung Politik
Pada November 2021, Saif al-Islam Gadhafi kembali muncul ke publik dengan mendaftarkan diri sebagai kandidat dalam pemilihan presiden Libya yang telah lama tertunda.
Pencalonannya memicu perpecahan tajam. Para pendukungnya memandangnya sebagai simbol stabilitas, sementara pihak oposisi menilainya sebagai pengingat masa otoritarianisme dan kejahatan perang yang belum terselesaikan. Pemilu tersebut kemudian ditunda tanpa batas waktu akibat kebuntuan politik dan masalah keamanan.
Seruan Investigasi Independen
Menjelang kematiannya, Saif al-Islam Gadhafi dilaporkan tengah menyusun sebuah gagasan rekonsiliasi nasional sebagai bagian dari ambisinya untuk kembali ke kehidupan politik Libya.
Dalam pernyataan resmi, tim Saif al-Islam mendesak lembaga peradilan Libya, komunitas internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta organisasi hak asasi manusia untuk melakukan penyelidikan yang independen dan transparan guna mengungkap pelaku dan motif di balik pembunuhan tersebut.







Belum ada komentar