Kasus keracunan massal yang diduga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Mojokerto, Jawa Timur.
Jumlah korban dilaporkan mencapai 780 pelajar pada pertengahan Januari 2026, menjadikannya salah satu insiden kesehatan siswa terbesar yang berkaitan dengan program tersebut di daerah.
Para siswa dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing, dan lemas setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Sejumlah pelajar harus mendapatkan penanganan medis di rumah sakit dan puskesmas setempat untuk observasi dan perawatan lebih lanjut.
DPRD Jatim Soroti Keamanan Program MBG
Menanggapi kejadian tersebut, Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. H. Suli Da’im, SM., S.Pd., MM., meminta Badan Gizi Nasional (BGN) segera melakukan langkah tegas dan terukur.
Ia menilai kasus ini harus menjadi perhatian serius karena menyangkut kesehatan anak-anak sekolah.
Menurutnya, investigasi menyeluruh perlu dilakukan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terlibat.
Pemeriksaan harus mencakup menu yang disajikan, kualitas bahan pangan, penyimpanan bahan, hingga proses pengolahan makanan di dapur MBG.
Operasional Dapur Bermasalah Harus Dihentikan
Ia menegaskan bahwa SPPG atau dapur MBG yang terbukti menjadi sumber keracunan perlu dihentikan operasionalnya sementara waktu.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah munculnya korban tambahan.
SPPG yang melanggar ketentuan, termasuk yang memaksakan target volume produksi tanpa memperhatikan standar keamanan, harus mendapat teguran serta sanksi sesuai aturan.
Dalam proses investigasi, aparat penegak hukum juga dinilai perlu dilibatkan agar penanganan berjalan transparan dan akuntabel.
Pelatihan Keamanan Pangan Wajib Dilakukan
Selain investigasi, BGN juga didorong menyelenggarakan bimbingan teknis terkait keamanan pangan dan higiene sanitasi bagi seluruh penjamah makanan di dapur MBG.
Langkah ini dianggap penting untuk meningkatkan standar pengolahan makanan di lingkungan program.
BGN juga diminta memastikan seluruh biaya perawatan korban keracunan ditanggung oleh pemerintah sebagai bentuk tanggung jawab terhadap peserta program.
Evaluasi Total Demi Keselamatan Siswa
Dr. Suli Da’im menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di daerah.
Evaluasi tersebut bertujuan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang serta memastikan kualitas makanan yang diberikan kepada siswa tetap terjaga.
Ia menyampaikan bahwa kesehatan siswa harus menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan program pemenuhan gizi di sekolah.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dr. H. Suli Da’im yang juga menjabat Wakil Ketua Fraksi PAN DPRD Jawa Timur.








Belum ada komentar