Presiden Donald Trump memperingatkan Iran bahwa “waktu semakin habis” untuk bernegosiasi terkait program nuklir mereka, menyusul peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Trump menyebut sebuah “armada besar” Angkatan Laut AS bergerak cepat menuju wilayah sekitar Iran. Ia menggambarkan pengerahan kekuatan tersebut dilakukan dengan kesiapan penuh dan tujuan jelas.
Menanggapi pernyataan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan angkatan bersenjata negaranya siap merespons segala bentuk agresi, baik melalui darat maupun laut. Iran tetap menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan menolak tudingan bahwa mereka mengembangkan senjata nuklir.
Trump Desak Iran Segera Berunding
Dalam pernyataan terbarunya, Trump berharap Iran segera “datang ke meja perundingan” untuk mencapai kesepakatan yang disebutnya adil dan setara, dengan syarat tidak ada senjata nuklir.
Ia menambahkan kekuatan militer AS di kawasan disebut lebih besar dibanding pengerahan sebelumnya ke Venezuela. Trump juga memperingatkan bahwa serangan lanjutan terhadap fasilitas nuklir Iran bisa terjadi dengan dampak yang lebih besar.
Respons Pemerintah Iran
Araghchi menyatakan Iran selalu terbuka terhadap kesepakatan nuklir yang saling menguntungkan, tanpa tekanan atau ancaman. Ia menegaskan senjata nuklir tidak pernah menjadi bagian dari kebijakan keamanan Iran.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyebut saat ini tidak ada negosiasi langsung dengan AS, meski terdapat pertukaran pesan tidak langsung.
Peningkatan Aktivitas Militer AS
Pelacakan sumber terbuka menunjukkan adanya peningkatan kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah. Citra satelit memperlihatkan jet tempur tiba di pangkalan udara Yordania, serta peningkatan aktivitas pesawat di Qatar dan Diego Garcia.
Sejumlah pesawat kargo militer, pesawat pengisian bahan bakar, drone, hingga pesawat pengintai P-8 Poseidon terpantau beroperasi mendekati wilayah udara Iran. Kapal induk USS Abraham Lincoln juga dilaporkan berada di kawasan tersebut sebagai bagian dari armada laut AS.
Latar Belakang Ketegangan Nuklir
Dalam kesepakatan nuklir tahun 2015, Iran dibatasi dalam pengayaan uranium. Namun, Trump menarik AS dari perjanjian itu pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi, yang kemudian direspons Iran dengan meningkatkan aktivitas pengayaan uranium.
AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium, membatasi program misil, serta menghentikan dukungan pada kelompok proksi di Timur Tengah sebagai syarat kesepakatan baru.
Serangan terakhir AS terhadap fasilitas nuklir Iran terjadi pada Juni tahun lalu, menargetkan fasilitas Fordo, Natanz, dan Isfahan. Iran membalas dengan peluncuran misil ke pangkalan militer AS di Qatar.
Situasi Tetap Tegang
Pernyataan keras dari kedua pihak menunjukkan ketegangan masih tinggi, sementara upaya diplomasi belum menunjukkan kemajuan signifikan. Kondisi ini membuat kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan internasional terkait isu keamanan dan stabilitas nuklir.













Belum ada komentar