Sebuah asteroid berdiameter hampir 90 meter dilaporkan melintas relatif dekat dengan Bumi dan memicu perhatian publik, memunculkan kembali pertanyaan: apa itu asteroid dan seberapa besar bahayanya jika mendekati planet kita?
Laporan tersebut dikutip dari LA Times yang menyebut asteroid bernama 2024 YR4 sempat terdeteksi memiliki peluang kecil mendekati Bumi pada 2032.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan masyarakat tidak perlu panik karena probabilitas tabrakan masih sangat rendah dan terus diperbarui seiring pengamatan lanjutan.
Apa Itu Asteroid?
Asteroid adalah benda langit berbatu yang mengorbit Matahari dan sebagian besar ditemukan di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter. Ukurannya bervariasi, mulai dari beberapa meter hingga ratusan kilometer.
Asteroid berbeda dengan komet yang mengandung es dan debu. Jika asteroid memasuki atmosfer Bumi dan bertahan hingga mencapai permukaan, benda tersebut disebut meteorit.
Asteroid 2024 YR4 dan Potensi Tabrakan
Menurut laporan yang dikutip dari LA Times, asteroid 2024 YR4 pertama kali terdeteksi oleh teleskop yang didanai NASA di Rio Hurtado, Chile, pada 27 Desember. Objek ini memiliki lebar sekitar 295 kaki atau hampir 90 meter.
Pusat Studi Objek Dekat Bumi (Center for Near Earth Object Studies) menyebut asteroid tersebut sempat melakukan pendekatan relatif dekat sehingga cukup terang untuk terdeteksi dalam survei.
Data terbaru per 31 Januari menunjukkan asteroid itu berada sekitar 30 juta mil dari Bumi dan bergerak menjauh mengikuti orbitnya mengelilingi Matahari.
Meski demikian, ilmuwan menghitung ada kemungkinan lebih dari 1% asteroid tersebut dapat mengarah ke Bumi dan berpotensi jatuh pada Desember 2032. Angka ini tergolong kecil dan masih bisa berubah.
Mengapa Probabilitas Bisa Berubah?
Davide Farnocchia, insinyur navigasi di Jet Propulsion Laboratory NASA, menjelaskan bahwa ketika asteroid baru ditemukan, lintasannya hanya bisa dihitung secara perkiraan.
Seiring bertambahnya data observasi, perhitungan orbit menjadi lebih akurat dan potensi tabrakan biasanya dapat dikesampingkan. Dalam kasus 2024 YR4, para ilmuwan menyatakan kemungkinan besar asteroid itu akan meleset dari Bumi.
Seberapa Bahaya Jika Asteroid Menabrak Bumi?
Tingkat bahaya asteroid bergantung pada ukuran dan komposisinya. Asteroid kecil umumnya terbakar habis di atmosfer sebelum mencapai permukaan.
Asteroid berukuran menengah bisa menimbulkan gelombang kejut atau ledakan udara (air burst) seperti yang terjadi pada peristiwa Chelyabinsk di Rusia tahun 2013. Saat itu, meteor berdiameter sekitar 20 meter menyebabkan gelombang kejut yang melukai sekitar 1.500 orang dan merusak bangunan.
Untuk asteroid yang lebih besar, dampaknya bisa jauh lebih serius. Laporan ilmiah tahun 2021 menyebutkan potensi efek langsung berupa gelombang kejut yang merobohkan bangunan, radiasi panas yang memicu kebakaran, serta tsunami jika jatuh di lautan.
Dampak jangka panjang dapat mencakup perubahan ekosistem, peningkatan debu di atmosfer, hingga gangguan iklim global.
Contoh Peristiwa Asteroid di Masa Lalu
Pada peristiwa Tunguska tahun 1908 di Siberia, ledakan meteor berdiameter sekitar 65 meter meratakan hutan dalam area luas dan menciptakan cahaya terang di langit Eropa dan Asia selama beberapa hari.
Sementara itu, peristiwa Chelyabinsk 2013 menunjukkan bahwa bahkan objek yang lebih kecil tetap dapat menimbulkan dampak signifikan melalui gelombang kejut atmosfer.
Apakah Kita Perlu Khawatir?
NASA bersama mitra internasional telah melakukan pemantauan asteroid selama beberapa dekade. Hingga kini, sebagian besar asteroid besar yang berpotensi menyebabkan kerusakan katastrofik telah teridentifikasi dan dipastikan tidak mengancam Bumi.
Ilmuwan menekankan bahwa asteroid bukanlah ancaman yang perlu ditakuti secara berlebihan. Sistem pemantauan global terus diperbarui untuk mendeteksi objek-objek dekat Bumi sejak dini.
Kasus asteroid 2024 YR4 menjadi pengingat bahwa penelitian antariksa dan pemantauan objek dekat Bumi tetap penting untuk meminimalkan risiko di masa depan.





Belum ada komentar