Apa Itu Supermoon? Penjelasan Ilmiah dan Dampak bagi Bumi

Apa Itu Supermoon? Penjelasan Ilmiah dan Dampak bagi Bumi
ejatimnews.com,

Fenomena supermoon kerap mencuri perhatian publik karena bulan terlihat lebih besar dan lebih terang dari biasanya, tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan supermoon?

Dalam istilah astronomi populer, supermoon adalah fase bulan purnama yang terjadi ketika Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi dalam orbit elipsnya.

Titik terdekat ini disebut perigee. Karena jaraknya lebih dekat dibandingkan posisi rata-rata, bulan bisa tampak hingga 14 persen lebih besar dan sekitar 30 persen lebih terang dibandingkan purnama biasa.

Apa Itu Supermoon?

Supermoon terjadi ketika fase bulan purnama bertepatan dengan momen Bulan berada di perigee. Orbit Bulan mengelilingi Bumi tidak berbentuk lingkaran sempurna, melainkan elips. Akibatnya, jarak antara Bumi dan Bulan berubah-ubah sepanjang siklus orbitnya.

Ketika Bulan berada di titik terjauh dari Bumi, kondisi ini disebut apogee. Sebaliknya, saat berada di titik terdekat, disebut perigee. Jika fase purnama terjadi berdekatan dengan perigee, maka fenomena tersebut dikenal sebagai supermoon.

Seberapa Besar dan Terang Supermoon?

Secara teoritis, supermoon dapat tampak hingga 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dibandingkan bulan purnama rata-rata. Namun perbedaan ukuran ini sering kali sulit dibedakan dengan mata telanjang.

Banyak orang merasa supermoon terlihat sangat besar saat muncul di dekat cakrawala. Fenomena ini disebut “moon illusion”, yaitu ilusi optik ketika otak manusia membandingkan ukuran bulan dengan objek di sekitar seperti gedung atau pepohonan, sehingga bulan tampak lebih besar dari ukuran sebenarnya.

Mengapa Supermoon Tidak Terjadi Setiap Bulan?

Meskipun bulan purnama terjadi setiap bulan, supermoon tidak selalu menyertainya. Hal ini karena posisi perigee tidak selalu bertepatan dengan fase purnama.

Perubahan orientasi orbit Bulan serta pengaruh gravitasi Bumi dan Matahari membuat supermoon menjadi peristiwa yang tidak sepenuhnya teratur. Dalam beberapa tahun, supermoon bisa terjadi lebih dari satu kali. Misalnya pada 2020, fenomena ini terjadi tiga kali berturut-turut pada Maret, April, dan Mei.

Fase-Fase Bulan dan Kaitannya dengan Supermoon

Dikutip dari ebsco, Bulan memiliki delapan fase utama, yaitu bulan baru, sabit awal (waxing crescent), kuartal pertama, cembung awal (waxing gibbous), purnama, cembung akhir (waning gibbous), kuartal terakhir, dan sabit akhir (waning crescent).

Siklus ini terjadi karena perubahan posisi Bulan terhadap Bumi dan Matahari, bukan karena bentuk fisik Bulan yang berubah. Supermoon hanya bisa terjadi pada fase bulan purnama atau bulan baru, ketika posisi Bulan sejajar dengan Bumi dan Matahari.

Dampak Supermoon terhadap Bumi

Karena jaraknya lebih dekat, gaya gravitasi Bulan terhadap Bumi sedikit meningkat saat supermoon terjadi. Kondisi ini dapat menyebabkan pasang surut laut yang lebih ekstrem dibandingkan biasanya.

Namun para ilmuwan menegaskan bahwa peningkatan pasang surut akibat supermoon umumnya tidak cukup besar untuk menimbulkan dampak serius.

Meski begitu, di beberapa wilayah pesisir, supermoon dapat memperbesar risiko banjir rob jika bertepatan dengan kondisi cuaca buruk.

Istilah Supermoon Bukan Istilah Resmi Astronomi

Menariknya, istilah “supermoon” bukanlah istilah resmi dalam dunia astronomi. Kata tersebut pertama kali diperkenalkan pada 1979 oleh astrolog Richard Nolle.

Dalam kajian ilmiah, fenomena ini lebih dikenal sebagai “perigean full moon” atau “perigee syzygy”, yaitu kondisi ketika bulan purnama terjadi di sekitar waktu Bulan berada di perigee.

Jenis-Jenis Supermoon

Terdapat beberapa variasi fenomena yang sering dikaitkan dengan supermoon. Salah satunya adalah super blood moon, yang terjadi ketika gerhana bulan total bertepatan dengan supermoon sehingga Bulan tampak kemerahan.

Ada pula super blue moon, yaitu ketika supermoon terjadi bersamaan dengan fenomena blue moon — kondisi dua kali bulan purnama dalam satu bulan kalender.

Kesimpulan

Supermoon merupakan fenomena astronomi alami yang terjadi akibat orbit elips Bulan mengelilingi Bumi. Meskipun terlihat lebih besar dan terang, perbedaan ukurannya relatif kecil dan sering kali dipengaruhi ilusi optik.

Fenomena ini tetap menjadi momen menarik bagi masyarakat dan pengamat langit karena menawarkan pemandangan bulan purnama yang lebih mencolok dibandingkan biasanya.

Belum ada komentar