Iran Kecam Seruan Trump soal Aksi Protes Nasional

Iran Kecam Seruan Trump soal Aksi Protes Nasional
ejatimnews.com,

Ketegangan politik di Iran kian memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyerukan demonstran untuk terus melakukan aksi protes terhadap pemerintah Iran.

Pernyataan tersebut menuai reaksi keras dari Teheran yang menilai seruan itu sebagai bentuk campur tangan terhadap kedaulatan negara.

Iran Layangkan Protes ke PBB atas Pernyataan Trump

Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengkritik keras pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait gelombang protes di Iran.

Dalam pernyataan resminya, misi Iran di PBB menegaskan bahwa negaranya akan mempertahankan kedaulatan dari segala bentuk intervensi eksternal.

Melalui unggahan di media sosial, perwakilan Iran menyebut kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran selama ini berakar pada upaya perubahan rezim.

Pendekatan tersebut dinilai menggunakan sanksi, ancaman, serta upaya menciptakan ketidakstabilan sebagai pembenaran intervensi.

Trump Dinilai Dorong Destabilisasi Politik

Dalam surat resmi yang dikirimkan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Presiden Dewan Keamanan PBB, Duta Besar Iran menilai seruan Trump kepada demonstran sebagai pernyataan yang tidak bertanggung jawab.

Iran menilai ajakan Trump agar demonstran terus melakukan protes serta pernyataan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” sebagai upaya yang mendorong instabilitas politik, menghasut kekerasan, serta mengancam keamanan nasional Iran.

Ancaman Tindakan Keras dari Amerika Serikat

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mengambil “tindakan sangat keras” jika otoritas Iran melakukan eksekusi terhadap pengunjuk rasa anti-pemerintah.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan media Amerika Serikat.

Gedung Putih menyebut bahwa berbagai opsi tengah dipertimbangkan, termasuk langkah militer, meskipun jalur diplomasi masih menjadi pilihan utama pemerintah AS.

Korban Tewas Protes Iran Tembus Ribuan

Berdasarkan laporan lembaga pemantau HAM yang berbasis di Amerika Serikat, jumlah korban tewas akibat protes nasional di Iran telah melampaui 2.000 orang sejak demonstrasi dimulai pada akhir Desember.

Korban mencakup warga sipil dan aparat keamanan.

Situasi semakin sulit diverifikasi karena pemerintah Iran menerapkan pembatasan internet secara nasional.

Meski demikian, sejumlah rekaman visual yang terverifikasi menunjukkan barisan kantong jenazah di sekitar Teheran.

Tekanan Internasional Terhadap Iran Meningkat

Sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman dan Italia, memanggil duta besar Iran untuk menyampaikan protes atas tindakan represif aparat keamanan terhadap demonstran.

Uni Eropa juga menyatakan akan mengkaji penambahan sanksi terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Sementara itu, Rusia menilai pernyataan dan ancaman Amerika Serikat sebagai bentuk campur tangan eksternal yang tidak dapat diterima dan berpotensi memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah.

Masa Depan Iran Masih Tidak Pasti

Hingga kini, belum dapat dipastikan apakah gelombang protes tersebut akan berujung pada perubahan kekuasaan di Iran.

Namun, tekanan terhadap otoritas tertinggi Iran disebut semakin besar seiring meningkatnya eskalasi kekerasan dan sorotan internasional.

Belum ada komentar