Mengapa Mars Disebut Planet Merah? Ini Penjelasan Lengkapnya

Mengapa Mars Disebut Planet Merah? Ini Penjelasan Lengkapnya
ejatimnews.com,

Mars, planet merah yang kerap terlihat mencolok di langit malam, menyimpan sederet misteri ilmiah dan bentang geologi paling ekstrem di tata surya.

Planet yang dinamai dari dewa perang dalam mitologi Romawi itu selama ribuan tahun menjadi simbol sekaligus teka-teki kosmik. Kini, setelah puluhan tahun dieksplorasi melalui wahana pengorbit, pendarat, dan rover robotik, Mars dipahami sebagai dunia dingin dan gersang yang pernah memiliki air mengalir di permukaannya, dikutip dari National Geographic.

Dulu Mirip Bumi, Kini Jadi Gurun Beku

Miliaran tahun lalu, Mars diyakini memiliki danau dan sungai dengan air cair yang mengalir di permukaannya. Kondisi tersebut membuat para ilmuwan menduga planet keempat dari Matahari ini pernah memiliki atmosfer lebih tebal dan suhu yang cukup hangat untuk menopang kehidupan mikroba.

Namun saat ini, Mars berubah menjadi gurun tandus dengan suhu rata-rata sekitar minus 81 derajat Fahrenheit atau sekitar minus 63 derajat Celsius. Suhu permukaannya bahkan bisa turun hingga minus 225 derajat Fahrenheit dan sesekali naik hingga 70 derajat Fahrenheit.

Ukuran dan Gravitasi Mars

Dengan radius sekitar 2.106 mil, Mars merupakan planet terbesar ketujuh di tata surya dan diameternya hanya sekitar setengah dari Bumi. Gravitasi permukaannya sekitar 37,5 persen dari gravitasi Bumi.

Planet ini berputar setiap 24,6 jam Bumi, sehingga satu hari di Mars—disebut “sol”—hampir sama panjangnya dengan satu hari di Bumi. Sumbu rotasinya miring sekitar 25,2 derajat, yang menyebabkan Mars memiliki musim layaknya Bumi.

Musim yang Lebih Panjang dan Ekstrem

Mars berada sekitar 50 persen lebih jauh dari Matahari dibandingkan Bumi, dengan jarak orbit rata-rata sekitar 142 juta mil. Akibatnya, satu tahun di Mars berlangsung selama 687 hari Bumi atau sekitar 669,6 sol.

Musim di Mars bisa berlangsung hingga lebih dari 190 sol. Namun, orbit Mars yang lebih elips serta atmosfernya yang jauh lebih tipis membuat perubahan musim di planet ini jauh lebih ekstrem dibandingkan Bumi.

Atmosfer Tipis dan Badai Debu Raksasa

Atmosfer Mars sebagian besar terdiri dari karbon dioksida, nitrogen, dan argon. Tekanan udaranya sangat rendah—bahkan tekanan udara di puncak Gunung Everest sekitar 50 kali lebih tinggi dibandingkan permukaan Mars.

Meski tipis, angin di Mars dapat bertiup hingga 60 mil per jam dan memicu badai debu raksasa yang mampu menyelimuti hampir seluruh planet.

Jejak Air dan Potensi Kehidupan Mikroba

Penelitian rover robotik menemukan bukti kuat bahwa miliaran tahun lalu air cair pernah mengalir di Mars. Es air masih ditemukan di bawah permukaan dan di wilayah kutub, namun tidak ada lautan atau danau besar seperti di masa lalu.

Para ilmuwan menduga kemungkinan kehidupan mikroba masih dapat bertahan di bawah permukaan planet yang berkarat tersebut, meski belum ada bukti pasti hingga kini.

Gunung Berapi dan Lembah Terdalam Tata Surya

Mars memiliki Olympus Mons, gunung berapi terbesar di tata surya, dengan ketinggian sekitar 16 mil—tiga kali lebih tinggi dari Gunung Everest. Diameter dasarnya mencapai sekitar 374 mil.

Di sisi lain, terdapat Valles Marineris, sistem ngarai raksasa yang membentang sekitar 2.500 mil dan mencapai kedalaman hingga 4,3 mil. Ngarai ini empat kali lebih dalam dan lima kali lebih panjang dibandingkan Grand Canyon di Bumi.

Inti Planet dan Misteri Medan Magnet

Mars diyakini memiliki inti berbahan besi dan nikel, namun tidak memiliki medan magnet global seperti Bumi. Tanpa perlindungan medan magnet, atmosfer Mars lebih mudah terkikis oleh partikel berenergi tinggi dari Matahari.

Wahana InSight milik NASA sebelumnya ditugaskan untuk mempelajari struktur bagian dalam Mars melalui gelombang seismik guna mengungkap misteri tersebut.

Dua Bulan Kecil: Phobos dan Deimos

Mars memiliki dua satelit alami kecil bernama Phobos dan Deimos yang ditemukan pada 1877. Phobos secara perlahan mendekati Mars sekitar enam kaki setiap abad dan diperkirakan akan hancur atau menabrak permukaan Mars dalam 50 juta tahun mendatang.

Eksplorasi dan Masa Depan Mars

Sejak 1960-an, Mars menjadi planet yang paling sering dieksplorasi setelah Bumi. Berbagai misi dari Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia, India, hingga Uni Emirat Arab telah mengirim wahana ke planet merah tersebut.

Beberapa misi masa depan dirancang untuk mencari tanda kehidupan purba serta mengumpulkan sampel batuan Mars untuk dibawa kembali ke Bumi. Selain itu, ada ambisi jangka panjang untuk mengirim manusia ke Mars sebagai bagian dari eksplorasi luar angkasa berikutnya.

Mars tetap menjadi simbol rasa ingin tahu manusia—sebuah titik merah di langit yang terus memancing imajinasi sekaligus penelitian ilmiah.

Belum ada komentar