Pemkot Surabaya Raih Predikat AA SAKIP 2025

Pemkot Surabaya Raih Predikat AA SAKIP 2025
ejatimnews.com,

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dalam Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Tahun 2025, Pemkot Surabaya berhasil meraih predikat “AA” dengan nilai 91,83 atau kategori Sangat Memuaskan.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri PANRB Rini Widyantini dalam ajang SAKIP dan Zona Integritas (ZI) Awards 2025 yang digelar di Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Ia menegaskan bahwa predikat tertinggi ini merupakan bukti komitmen Pemkot Surabaya dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang akuntabel, efektif, serta berorientasi pada hasil dan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Keberhasilan ini adalah hasil kerja keras, kolaborasi, dan sinergi seluruh perangkat daerah dalam meningkatkan kualitas kinerja dan pelayanan publik,” ujar Eri, Minggu (15/2/2026).

Konsistensi Perbaikan Berkelanjutan

Menurut Eri, keberhasilan mempertahankan predikat AA tidak lepas dari konsistensi menindaklanjuti rekomendasi evaluasi tahun sebelumnya.

Setiap catatan perbaikan dijalankan secara sistematis, mulai dari aspek perencanaan, pengukuran, pelaporan hingga evaluasi kinerja.

Ia juga menekankan kuatnya komitmen kepemimpinan, mulai dari wali kota, sekretaris daerah, hingga seluruh kepala perangkat daerah.

Penyelarasan tujuan strategis dan penguatan koordinasi lintas sektor dinilai menjadi kunci terciptanya tata kelola yang terintegrasi.

“Kinerja organisasi tidak bergerak secara parsial, tetapi dalam satu kerangka pembangunan yang koheren,” paparnya.

Ekosistem Inovasi dan Tata Kelola Berbasis Data

Eri menegaskan bahwa capaian SAKIP 2025 bukan hasil dari satu program tunggal, melainkan ditopang oleh ekosistem inovasi dan tata kelola berbasis data.

Salah satu inisiatif strategis adalah Program Kampung Pancasila yang mendorong pembangunan berbasis komunitas hingga tingkat RW dan RT.

Program ini melibatkan warga, aparatur sipil negara, serta dunia usaha dalam semangat gotong royong.

Pemkot Surabaya juga menghadirkan dashboard data kinerja daerah yang memungkinkan pemantauan capaian indikator dan pelaksanaan program secara real time.

Sistem ini memperkuat pengendalian serta pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based policy).

Transformasi birokrasi turut diperkuat melalui platform digital “Kantorku” dan “WargaKu” yang menyederhanakan layanan internal maupun layanan publik.

“Transformasi ini mempercepat respons birokrasi, mengurangi fragmentasi prosedur, serta memperkuat orientasi pelayanan publik,” tuturnya.

Berorientasi Dampak Nyata

Lebih lanjut, Eri menegaskan bahwa capaian SAKIP tidak berhenti pada nilai evaluasi, tetapi harus berdampak langsung bagi masyarakat.

Karena itu, indikator kinerja dalam dokumen perencanaan dievaluasi secara berkala untuk memastikan relevansinya.

Pemkot Surabaya juga menerapkan evaluasi berbasis data by name by address untuk memastikan ketepatan sasaran intervensi, termasuk validasi status keluarga miskin serta efektivitas program bantuan sosial.

“Dengan pendekatan ini, kebijakan tidak lagi bersifat agregatif, tetapi mampu mengidentifikasi individu dan keluarga yang benar-benar membutuhkan intervensi,” jelasnya.

Tantangan Menjaga Predikat AA

Terkait tantangan mempertahankan predikat AA, Eri menyebut bahwa fokus utama bukan sekadar menjaga nilai, tetapi memastikan konsistensi dalam menggali, memetakan, dan menganalisis capaian kinerja secara komprehensif.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan manajemen pengetahuan, termasuk pendokumentasian inovasi perangkat daerah secara sistematis agar praktik baik dapat direplikasi oleh seluruh ASN di lingkungan Pemkot Surabaya.

“Predikat AA bukan tujuan akhir, melainkan instrumen refleksi dan pendorong peningkatan kinerja berkelanjutan,” tegasnya.

Ke depan, Pemkot Surabaya berkomitmen memperkuat kualitas perencanaan, efektivitas pelaksanaan program, serta monitoring dan evaluasi berbasis kebutuhan riil masyarakat.

Langkah ini sejalan dengan visi menjadikan Surabaya sebagai kota berkelas dunia yang berdaya saing dan berorientasi pada kesejahteraan warga.

Belum ada komentar