Rusia melancarkan serangan rudal dan drone terbesar ke Ukraina sepanjang tahun ini pada Selasa, menurut otoritas Ukraina. Serangan tersebut memutus pasokan pemanas bagi puluhan ribu warga dan mengakhiri jeda singkat serangan yang sebelumnya disepakati Moskow dan Washington, saat Ukraina menghadapi suhu musim dingin yang ekstrem.
Tim CNN di ibu kota Kyiv melaporkan mendengar beberapa ledakan kuat, sementara otoritas di Dnipro, Kharkiv, Sumy, Zaporizhzhia, dan Odesa mengonfirmasi adanya serangan Rusia di wilayah mereka.
Zelensky Menunggu Respons Amerika Serikat
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan Ukraina menunggu reaksi Amerika Serikat atas gelombang serangan terbaru Rusia terhadap jaringan listrik nasional.
Dalam pidato malamnya, Zelensky mengatakan usulan penghentian serangan terhadap fasilitas energi berasal dari Amerika Serikat, khususnya untuk periode diplomasi dan cuaca musim dingin yang ekstrem.
Jeda Serangan Berakhir Usai Kesepakatan Sementara
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyetujui penghentian sementara serangan terhadap kota-kota besar dan infrastruktur energi Ukraina hingga Minggu, setelah permintaan pribadi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menurut pernyataan Kremlin.
Gedung Putih menyebut Trump tidak terkejut dengan serangan terbaru Rusia. Meski menginginkan perpanjangan jeda dan berakhirnya perang, Trump menilai Putin tetap mematuhi kesepakatan selama satu minggu penuh.
Negosiasi Damai Tetap Berlanjut
Juru bicara Gedung Putih menyatakan negosiasi antara Rusia dan Ukraina akan tetap berlangsung pekan ini di Abu Dhabi dengan Amerika Serikat berperan sebagai mediator. Jeda serangan tersebut juga terjadi setelah perundingan trilateral Rusia, Ukraina, dan AS, yang merupakan pembicaraan pertama sejak invasi Rusia pada Februari 2022.
Serangan Terbesar Tahun Ini
Zelensky menyebut serangan Rusia kali ini menargetkan fasilitas energi di sedikitnya enam wilayah dan melibatkan 70 rudal serta 450 drone. Berdasarkan perhitungan CNN, ini merupakan serangan terbesar sepanjang tahun berjalan.
Ia menilai Rusia memanfaatkan hari-hari terdingin musim dingin untuk menimbulkan teror terhadap warga sipil, dengan suhu di sejumlah wilayah Ukraina turun hingga di bawah minus 20 derajat Celsius.
Dampak Parah di Kota-Kota Besar
Di Kyiv, hampir 1.200 gedung apartemen di dua distrik kehilangan pasokan pemanas, menurut wali kota Vitaliy Klitschko. Beberapa bangunan hunian dan sebuah taman kanak-kanak mengalami kerusakan, sementara enam orang dilaporkan terluka.
Di Odesa, lebih dari 50.000 orang kehilangan aliran listrik. Sementara itu, kota Kharkiv diserang rudal dan drone yang menargetkan infrastruktur energi, menyebabkan sedikitnya 820 gedung bertingkat kehilangan pasokan panas.
Kesaksian Warga dan Kondisi Cuaca Ekstrem
Warga Kyiv menghabiskan hingga tujuh jam di bawah peringatan serangan udara. Suhu di ibu kota mencapai minus 20 derajat Celsius, sementara di Kharkiv turun hingga minus 25 derajat Celsius.
Warga terlihat berlindung di stasiun metro dengan mengenakan pakaian tebal dan selimut. Seorang warga Kyiv mengatakan serangan terhadap bangunan tempat tinggal dilakukan secara sengaja untuk mematahkan semangat masyarakat.
Korban Jiwa di Wilayah Selatan
Di Zaporizhzhia, serangan drone merusak bangunan, kendaraan, dan toko-toko. Dua remaja tewas dan delapan orang lainnya terluka, menurut kepala administrasi militer setempat.
Infrastruktur Energi dalam Kondisi Kritis
Perusahaan energi swasta terbesar Ukraina, DTEK, menyatakan serangan tersebut menghantam pembangkit listrik tenaga panas dan merusak infrastruktur penting pada saat listrik dan pemanas sangat dibutuhkan.
DTEK mengungkapkan saat ini hanya tiga dari lima pembangkit listrik tenaga panas yang masih beroperasi, itupun dengan kapasitas rendah, sementara dua lainnya tidak aktif akibat kerusakan.
Harapan pada Gencatan Energi
Pihak DTEK berharap kesepakatan penghentian serangan terhadap fasilitas energi yang sempat berlaku selama lima hari dapat diperpanjang dalam perundingan di Abu Dhabi.
Perusahaan tersebut juga melaporkan serangan besar terhadap tambang batu bara, termasuk serangan terhadap bus yang mengangkut para penambang, yang menewaskan sedikitnya 12 orang.






Belum ada komentar