Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) terus memperkuat kesiapsiagaan medis di lapangan melalui pelantikan 1.673 prajurit Pendidikan Pertama Tamtama (Dikmata) Gelombang III Tahun Anggaran 2025 kecabangan kesehatan. Kegiatan pelantikan tersebut dipimpin oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa dan berlangsung di Pusat Pendidikan Ajudan Jenderal (Pusdikajen), Lembang, Bandung, Jawa Barat, pada Rabu (4/2/2026).
Bagian dari Pelantikan Tamtama Gelombang III TA 2025
Sebanyak 1.673 prajurit tamtama kesehatan yang dilantik merupakan bagian dari total 21.885 tamtama remaja yang mengikuti pelantikan secara serentak dari berbagai kecabangan pada Dikmata Gelombang III Tahun Anggaran 2025. Seluruh prajurit tersebut telah menyelesaikan pendidikan dasar keprajuritan selama dua bulan di sejumlah lembaga pendidikan TNI AD.
Pendidikan dasar tersebut menjadi tahapan awal dalam membentuk sikap, mental, dan kondisi fisik prajurit agar siap menjalani tugas sebagai anggota TNI AD. Proses pembinaan dilakukan secara terstruktur untuk menanamkan kedisiplinan, loyalitas, serta kesiapan menghadapi dinamika tugas di lapangan.
Amanat Kasad tentang Pembentukan Prajurit Tangguh
Dalam amanat tertulis Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., yang dibacakan oleh Wakasad, disampaikan bahwa pendidikan intensif yang telah dijalani para prajurit bertujuan membentuk prajurit TNI AD yang tangguh, profesional, dan berkarakter.
Pembentukan karakter tersebut dilandaskan pada nilai-nilai Sapta Marga, Sumpah Prajurit, serta Delapan Wajib TNI yang ditanamkan melalui pembinaan fisik dan mental secara terintegrasi. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman dasar dalam pelaksanaan tugas prajurit, baik dalam konteks militer maupun pengabdian kepada masyarakat.
Strategi Pembangunan Kekuatan TNI AD
Wakasad dalam amanat tersebut mengutip penegasan bahwa pendidikan yang dijalani para prajurit merupakan bagian integral dari strategi besar pembangunan kekuatan TNI AD. Strategi ini telah dirancang secara sistematis oleh Presiden Republik Indonesia dan ditindaklanjuti oleh lembaga pendidikan TNI AD secara berkelanjutan.
Melalui pola pendidikan yang berkesinambungan, TNI AD berupaya memenuhi kebutuhan pengembangan satuan-satuan baru yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Kehadiran prajurit dengan kecabangan kesehatan menjadi elemen penting dalam mendukung kesiapan satuan tersebut.
Peran Prajurit Kesehatan dalam OMP dan OMSP
Di tengah dinamika dan kompleksitas tantangan tugas, keberadaan prajurit kesehatan diharapkan mampu memberikan dukungan optimal dalam pelaksanaan Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
Peran tersebut mencakup keterlibatan dalam penugasan kemanusiaan, penanggulangan bencana, serta pelayanan kesehatan, khususnya di daerah-daerah yang membutuhkan kehadiran tenaga medis dari TNI AD. Dukungan medis yang memadai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan tugas prajurit di lapangan.
Tahapan Pendidikan Lanjutan dan Penempatan Satuan
Setelah resmi dilantik, para prajurit tamtama kesehatan akan melanjutkan pendidikan kejuruan kesehatan selama satu bulan. Pendidikan lanjutan ini bertujuan membekali mereka dengan kemampuan teknis sesuai kecabangan sebelum terjun ke satuan.
Selanjutnya, para prajurit akan ditempatkan pada satuan-satuan Batalyon Teritorial Pembangunan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Keberadaan satuan ini dinilai strategis dalam mendukung percepatan penanganan serta pemulihan dampak bencana, sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan bagi prajurit dan masyarakat di daerah penugasan.









Belum ada komentar