Kemendikdasmen Salurkan Bantuan Buku untuk Sekolah Terdampak Banjir di Solok

Kemendikdasmen Salurkan Bantuan Buku untuk Sekolah Terdampak Banjir di Solok
ejatimnews.com,

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat, kembali menyalurkan bantuan pemulihan pendidikan bagi sekolah-sekolah yang terdampak banjir di Kabupaten Solok. Penyaluran bantuan tersebut dilaksanakan pada Rabu (4/2) sebagai bentuk kepedulian dan komitmen berkelanjutan pemerintah dalam memastikan layanan pendidikan tetap berjalan bagi peserta didik di wilayah terdampak bencana.

Bantuan Buku dan Dana Pendidikan untuk Sekolah Terdampak

Pada tahap penyaluran kali ini, Kemendikdasmen mendistribusikan sebanyak 1.476 buku bacaan ke tiga satuan pendidikan, yakni SDN 09 Selayo, SDN 05 Selayo, dan SMPN 1 Kubung. Selain buku bacaan, sekolah-sekolah tersebut juga menerima bantuan dana pendidikan yang ditujukan untuk mendukung keberlanjutan proses belajar mengajar pascabencana.

Bantuan dana tersebut difokuskan untuk membantu pemulihan sarana pendukung pembelajaran yang mengalami kerusakan akibat banjir, sehingga aktivitas pendidikan dapat kembali berlangsung secara bertahap.

Respons Sekolah dan Pemerintah Daerah

Kepala Sekolah SDN 05 Selayo, Erlinawati, menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang diterima pihak sekolah. Ia menjelaskan bahwa banyak buku bacaan milik siswa rusak dan hanyut terbawa banjir, sehingga kehadiran bantuan tersebut sangat dibutuhkan.

“Kami sangat bersyukur atas bantuan buku ini. Buku-buku anak kami rusak dan hanyut akibat banjir, sehingga kehadiran buku bacaan ini sangat kami butuhkan untuk mendukung kegiatan belajar di sekolah,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Solok, Nila Kesumawati, menegaskan bahwa ketersediaan buku merupakan elemen penting dalam proses pembelajaran, khususnya dalam kondisi darurat pascabencana.

“Jika sarana seperti meja dan kursi belum tersedia, anak-anak masih bisa belajar secara sederhana. Namun, tanpa buku, pembelajaran tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya,” tuturnya.

Literasi sebagai Bagian dari Pemulihan Pendidikan

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat, Rahmat, menyampaikan bahwa penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari upaya pemulihan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pemulihan psikososial peserta didik.

Menurutnya, buku bacaan berperan penting dalam membantu anak-anak kembali merasa aman, nyaman, serta menumbuhkan semangat belajar setelah mengalami dampak bencana.

Harapan Memulihkan Semangat Belajar Anak

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dora Amalia, menyampaikan bahwa bantuan buku bacaan diharapkan mampu memulihkan semangat belajar peserta didik yang terdampak banjir.

“Melalui penyaluran buku bacaan, kami berharap anak-anak kembali termotivasi untuk belajar dan merasakan bahwa negara hadir mendampingi mereka dalam situasi sulit pascabencana,” jelasnya saat menyerahkan bantuan.

Cakupan Program Pemulihan Pendidikan di Sumatra Barat

Penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari program pemulihan pendidikan di Provinsi Sumatra Barat yang menjangkau total 242 sekolah terdampak bencana. Hingga saat ini, bantuan yang telah disalurkan meliputi 3.756 eksemplar buku bacaan serta voucer pendidikan dengan total nilai mencapai Rp340 juta.

Besaran bantuan yang diterima setiap sekolah berkisar antara Rp5 juta hingga Rp25 juta, disesuaikan dengan tingkat dampak bencana yang dialami masing-masing satuan pendidikan. Penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap pada 29–31 Januari serta 4 Februari 2026.

Pendekatan Literasi untuk Pemulihan Pascabencana

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa pendekatan literasi dipilih sebagai salah satu strategi utama dalam pemulihan pendidikan pascabencana.

Ia menjelaskan bahwa pada tahap ini Kemendikdasmen menyalurkan buku bacaan dalam jumlah yang lebih besar, disertai voucer pendidikan yang dapat dimanfaatkan sekolah untuk mendukung perbaikan sarana fisik pembelajaran.

“Kami ingin memastikan pemulihan pendidikan berjalan secara menyeluruh dan berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hafidz Muksin menyampaikan bahwa kegiatan literasi mampu menciptakan suasana yang aman, menenangkan, dan menyenangkan bagi anak-anak yang mengalami tekanan psikologis pascabencana. Aktivitas membaca dan mendengarkan cerita membantu anak menenangkan emosi serta kembali pada rutinitas belajar yang memberi rasa stabil.

“Anak-anak yang terdampak banjir memerlukan pendampingan agar tetap memiliki motivasi belajar dan rasa aman secara psikologis. Melalui buku dan aktivitas literasi, kami berupaya membantu mereka kembali beradaptasi dan pulih,” pungkasnya.

Komitmen Pemerintah Jaga Hak Belajar Anak

Melalui program pemulihan pendidikan ini, Kemendikdasmen terus berupaya memastikan keberlangsungan layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana sebagai bagian dari komitmen negara dalam melindungi hak belajar setiap anak dan mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.

Belum ada komentar