Media The Washington Post Dihantam PHK Massal

Media The Washington Post Dihantam PHK Massal
ejatimnews.com,

Mantan pemimpin redaksi The Washington Post, Marty Baron, secara terbuka menyampaikan kegelisahannya terhadap masa depan surat kabar ternama Amerika Serikat tersebut.

Kekhawatiran itu muncul setelah perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar yang berdampak signifikan pada struktur organisasi redaksi.

The Washington Post, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu media paling berpengaruh di Amerika Serikat, kini berada dalam situasi penuh ketidakpastian.

Dalam wawancara dengan media Inggris, Baron menilai bahwa arah dan ambisi organisasi berita tersebut tidak lagi sekuat sebelumnya.

Kekhawatiran Mantan Pemimpin Redaksi

Marty Baron, yang pernah memimpin The Post selama delapan tahun hingga 2021, dikenal sebagai sosok yang membawa surat kabar itu meraih 11 Penghargaan Pulitzer dan memperluas ruang redaksi hingga menampung lebih dari 1.000 jurnalis. Namun, menurutnya, kondisi tersebut kini berubah drastis.

“Aspirasi organisasi berita ini telah menurun,” ujar Baron. Ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa penurunan ambisi tersebut berpotensi mengurangi jumlah pelanggan dan dapat memicu kemerosotan berkelanjutan.

Baron menyebut, meskipun berharap kondisi ini bukan awal dari kemunduran permanen, ia tetap merasa cemas terhadap arah yang diambil oleh The Post saat ini.

PHK Terbesar dalam Sejarah The Post

Kekhawatiran tersebut mencuat setelah The Post menjalankan salah satu gelombang PHK terbesar dalam sejarah industri surat kabar Amerika Serikat.

Pemimpin redaksi saat ini, Matt Murray, pada Rabu (4/2/2026), menyampaikan kepada karyawan bahwa perusahaan memiliki rencana untuk bertahan dan berkembang, bersamaan dengan pelaksanaan PHK besar-besaran.

Data internal menunjukkan bahwa hampir sepertiga karyawan perusahaan terdampak kebijakan tersebut.

Pada akhir 2023, sebelum program pengunduran diri sukarela diterapkan, The Post memiliki sekitar 2.500 karyawan. Kini, hampir 800 orang di antaranya telah kehilangan pekerjaan.

Dampak Besar terhadap Struktur Redaksi

PHK ini berdampak luas pada berbagai departemen utama. Departemen olahraga ditutup sepenuhnya, sementara tim liputan berita lokal, gaya hidup, dan internasional mengalami pemangkasan signifikan.

Departemen audio dan video, yang sebelumnya telah terkena pengurangan staf, kembali diperkecil.

Selain itu, unit-unit komersial juga mengalami pengurangan tenaga kerja. Akibat kebijakan tersebut, The Post kini beroperasi sebagai organisasi berita yang jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan jurnalis, baik yang masih bertahan maupun yang telah keluar, bahwa penyusutan tersebut akan membuat The Post menjadi kurang ambisius dalam menjalankan fungsi jurnalistiknya.

Tekanan Politik dan Industri Media

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah tekanan finansial yang melanda industri media secara global, serta meningkatnya ketegangan antara media dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump diketahui kerap melontarkan ancaman terhadap jaringan berita dan mendorong lembaga regulasi untuk mengambil tindakan terhadap media yang dianggap tidak sejalan dengannya.

Dalam periode yang sarat peristiwa penting di Amerika Serikat, sejumlah organisasi media lain juga melakukan PHK, termasuk CBS News dan Atlanta Journal-Constitution.

Perubahan Sikap Jeff Bezos

Dalam memoarnya yang terbit pada 2023, Baron sebelumnya menuliskan pandangan positif mengenai kepemimpinan Jeff Bezos sebagai pemilik The Post. Namun, pandangan tersebut kini berubah.

Baron menilai perubahan itu berkaitan dengan terpilihnya kembali Trump pada November 2024.

Ia berpendapat bahwa Bezos kini berupaya menjaga hubungan dengan Trump untuk melindungi kepentingan bisnis lain, seperti Amazon dan Blue Origin.

Menurut Baron, Bezos kemungkinan khawatir terhadap potensi pembalasan politik, termasuk risiko pencabutan kontrak pemerintah bagi perusahaan-perusahaan tersebut.

Kritik terhadap Manajemen Perusahaan

Kritik juga diarahkan kepada penerbit The Post, Will Lewis, yang direkrut pada akhir 2023 untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan.

Ketidakhadiran Lewis dalam pertemuan daring dengan karyawan saat pengumuman PHK dinilai janggal oleh sebagian staf.

Donald E. Graham, pemilik lama The Post yang menjual surat kabar itu kepada Bezos pada 2013, turut menyampaikan keprihatinannya.

Dalam unggahan di media sosial, ia menyebut hari tersebut sebagai hari yang buruk dan menyatakan kesedihannya atas banyaknya jurnalis berpengalaman yang kehilangan pekerjaan.

Fokus Baru dan Persaingan Ketat

Dalam pertemuan virtual dengan karyawan, Matt Murray menjelaskan bahwa ke depan tim peliputan politik dan pemerintahan akan menjadi kelompok terbesar di The Post. Liputan tersebut dinilai tetap menjadi pusat keterlibatan pembaca dan pertumbuhan pelanggan.

Meski demikian, sebagai organisasi berita yang kini lebih kecil dan berfokus pada politik serta pemerintahan federal, The Post harus menghadapi persaingan ketat dari media seperti Politico, Axios, serta pemain baru seperti Punchbowl News.

Mantan jurnalis The Post yang kini menjabat sebagai CEO Axios, Jim VandeHei, mengaku tidak memahami strategi yang dijalankan The Post saat ini.

Penurunan Pelanggan dan Kekhawatiran Lanjutan

Pada musim gugur 2024, The Post kehilangan ratusan ribu pelanggan setelah Jeff Bezos membatalkan rencana dukungan editorial terhadap Kamala Harris dalam pemilihan presiden AS. Perubahan arah halaman opini juga turut memicu kontroversi.

Sejumlah pihak khawatir bahwa PHK terbaru ini akan memicu gelombang pembatalan langganan baru serta memperberat beban keuangan perusahaan, termasuk kewajiban pesangon bernilai jutaan dolar.

Serikat pekerja The Post bahkan menyerukan agar Bezos menjual surat kabar tersebut jika tidak lagi bersedia berinvestasi pada misinya.

Menanggapi wacana tersebut, Marty Baron menutup dengan satu pertanyaan besar mengenai masa depan The Post.

Belum ada komentar