Pada Rabu, 25 Desember 2025, perwakilan militer dari Thailand dan Cambodia memulai perundingan penting setelah lebih dari dua minggu bentrokan sengit di perbatasan kedua negara. Pertemuan ini menjadi tonggak baru dalam upaya penyelesaian konflik yang telah mengakibatkan lebih dari 86 korban jiwa dan ratusan ribu orang mengungsi.
Latar Belakang Konflik Perbatasan Thailand-Cambodia
Konflik perbatasan antara Thailand dan Cambodia telah berlangsung selama bertahun-tahun, dengan sengketa wilayah yang melibatkan daerah-daerah strategis sepanjang perbatasan 817 kilometer (508 mil). Meskipun beberapa kali tercapai gencatan senjata, kedua negara sering terjebak dalam kekerasan yang mengarah pada kerugian jiwa. Perundingan yang dimulai pada hari Rabu ini adalah kelanjutan dari pembicaraan yang dilakukan di Kuala Lumpur pada Oktober 2025, yang melibatkan peran aktif Malaysia dan Amerika Serikat untuk meredakan ketegangan.
Sejak awal Desember, pertempuran kembali pecah di berbagai titik sepanjang perbatasan. Kekerasan tersebut menyebabkan banyak korban jiwa di kedua belah pihak, dengan lebih dari 21 orang tewas di Cambodia dan 65 orang di Thailand. Selain itu, lebih dari setengah juta orang terpaksa mengungsi akibat intensitas pertempuran yang terus meningkat.
Proses Perundingan yang Diharapkan Membawa Kedamaian
Perundingan yang digelar pada Rabu ini merupakan langkah signifikan pertama dalam meredakan ketegangan yang telah meningkat tajam. Bertempat di sebuah pos pemeriksaan di perbatasan selatan, pertemuan ini diharapkan dapat menjadi titik awal menuju kesepakatan gencatan senjata yang lebih permanen.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Laksamana Muda Surasant Kongsiri, menyatakan bahwa perundingan antara kedua negara akan berlangsung selama tiga hari dan kemungkinan dapat mengarah pada kesepakatan yang lebih luas. Dalam wawancara dengan media, Surasant menyebutkan bahwa jika pertemuan ini berjalan lancar, maka akan ada pertemuan lanjutan pada 27 Desember 2025 antara Menteri Pertahanan Thailand dan Cambodia.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Cambodia, Maly Socheata, mengonfirmasi bahwa perundingan dimulai pada pukul 16.30 waktu setempat, dengan melibatkan jenderal-jenderal dari kedua negara. Maly juga menekankan pentingnya pertemuan ini mengingat kedua belah pihak telah terlibat dalam beberapa upaya gagal sebelumnya, baik oleh Malaysia, China, maupun Amerika Serikat, untuk membawa mereka kembali ke meja perundingan.
Peran ASEAN dan Negara-negara Terkait dalam Mencari Solusi
Perundingan ini terjadi hanya dua hari setelah pertemuan darurat para menteri luar negeri ASEAN di Kuala Lumpur. Dalam pertemuan tersebut, pihak-pihak terkait mendiskusikan kemungkinan kembalinya gencatan senjata yang pertama kali difasilitasi oleh Malaysia dan Presiden AS, Donald Trump, pada Juli 2025. Meskipun ada kemajuan diplomatik, ketegangan di lapangan masih sangat tinggi, dengan kedua belah pihak terus saling menuduh melanggar kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya.
Tuduhan Serangan Udara dan Kekerasan terhadap Warga Sipil
Penyebab eskalasi terbaru adalah tuduhan serangan udara yang dilontarkan oleh Kementerian Pertahanan Cambodia terhadap Thailand. Cambodia menuduh Thailand menggunakan jet tempur untuk menjatuhkan bom di Provinsi Banteay Meanchey, yang disebut sebagai serangan brutal dan tidak terkendali. Di sisi lain, Thailand membalas dengan tuduhan bahwa Cambodia terus menembakkan senjata berat ke wilayah sipil di Provinsi Sa Kaeo, yang memaksa militer Thailand untuk melakukan serangan balasan.
Upaya Penyelesaian yang Masih Berlanjut
Pemerintah Amerika Serikat telah mengungkapkan keprihatinan atas terus berlanjutnya pertempuran dan jatuhnya korban jiwa. Menurut seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Presiden Trump dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo tetap berhubungan dengan pejabat tinggi Thailand dan Cambodia untuk mengungkapkan kekhawatiran mereka terkait situasi tersebut. Pihak AS mendesak kedua negara untuk segera menghentikan permusuhan dan melindungi warga sipil, serta untuk sepenuhnya melaksanakan kesepakatan gencatan senjata yang tercatat dalam Kuala Lumpur Peace Accords.
Perundingan militer yang dimulai pada Rabu ini menunjukkan adanya harapan baru bagi perdamaian di perbatasan Thailand dan Cambodia. Namun, tantangan masih sangat besar, mengingat kekerasan yang terus berlangsung dan adanya ketegangan yang mendalam antara kedua negara. Meski begitu, dengan adanya upaya diplomatik yang terus berjalan, diharapkan bahwa kedua negara akan menemukan jalan keluar yang damai untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama ini.
Belum ada komentar