Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat telah melakukan pembicaraan yang ia sebut berjalan dengan sangat baik bersama Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah delegasi kedua negara mengikuti pembicaraan tidak langsung yang difasilitasi di Oman pada Jumat.
“Iran terlihat sangat ingin mencapai kesepakatan. Namun kita masih harus melihat seperti apa kesepakatan itu,” ujar Trump saat berbicara di dalam pesawat Air Force One.
Pertemuan di negara Teluk tersebut menjadi putaran awal negosiasi pertama antara kedua pihak sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Republik Islam Iran pada musim panas lalu.
Kesepakatan Lanjutan Masih Dikonsultasikan
Menurut sumber yang mengetahui jalannya perundingan, kedua pihak sepakat untuk melanjutkan pembicaraan setelah masing-masing melakukan konsultasi dengan pemerintah di negara mereka.
Dialog tersebut berlangsung di tengah peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, serta setelah Trump mengeluarkan pernyataan ancaman akan menyerang Iran apabila negara itu menggunakan kekuatan mematikan terhadap para demonstran atau menolak menandatangani kesepakatan nuklir.
Menjelang pertemuan, Menteri Luar Negeri Iran menyampaikan bahwa negaranya memasuki jalur diplomasi dengan sikap waspada.
“Kami memasuki diplomasi dengan mata terbuka dan ingatan yang kuat atas peristiwa setahun terakhir. Kami bernegosiasi dengan itikad baik dan tetap berpegang pada hak-hak kami,” tulis Abbas Araghchi melalui akun media sosial X.
Retorika Keras Tetap Mewarnai
Meski dialog berlangsung, bahasa keras tetap terdengar dari kedua belah pihak. Sehari sebelum pembicaraan, Trump menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei “seharusnya sangat khawatir” menjelang dimulainya negosiasi.
Trump juga mengungkapkan bahwa meskipun diskusi dinilai produktif, sebuah armada besar militer Amerika Serikat sedang menuju kawasan sekitar Iran dan diperkirakan segera tiba.
Delegasi dan Peran Mediator Oman
Pembicaraan tersebut diikuti oleh Abbas Araghchi dari pihak Iran dan utusan Amerika Serikat Steve Witkoff. Jared Kushner, menantu Presiden Trump, juga turut hadir. Proses negosiasi dilakukan secara tidak langsung dengan mediasi Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi.
Sebelumnya, Albusaidi melakukan pertemuan terpisah dengan masing-masing delegasi sebelum memfasilitasi jalannya dialog.
Dalam foto yang dirilis Kantor Berita Oman, Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, juga terlihat hadir dalam rangkaian pertemuan tersebut.
Format Negosiasi Mengikuti Pola Sebelumnya
Media Iran melaporkan bahwa format negosiasi ini mengadopsi pola pembicaraan sebelumnya. Sebelum konflik Iran-Israel selama 12 hari pada Juni lalu, Tehran dan Washington telah melalui lima putaran dialog dengan peran aktif mediator Oman.
Namun, rangkaian negosiasi tersebut terhenti setelah Israel menyerang fasilitas nuklir dan militer Iran pada pertengahan Juni, yang kemudian diikuti serangan Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir Iran.
Dalam pertemuan terbaru, Araghchi menyampaikan sebuah rencana awal kepada mitranya dari Oman yang bertujuan untuk mengelola situasi terkini antara Iran dan Amerika Serikat. Rencana tersebut kemudian diteruskan kepada delegasi Amerika Serikat untuk mendapatkan tanggapan.
Perbedaan Pandangan Soal Ruang Lingkup Pembicaraan
Lingkup pembahasan dalam negosiasi ini masih belum jelas. Sebelum pertemuan, pejabat Iran menegaskan bahwa mereka hanya ingin membahas isu terkait program nuklir.
Topik lain seperti program rudal balistik, jaringan proksi di kawasan, serta situasi domestik Iran dinyatakan berada di luar agenda.
Sementara itu, pihak Amerika Serikat menginginkan pembahasan yang lebih luas, termasuk soal rudal balistik Iran, kelompok bersenjata yang dinilai mengancam kepentingan Amerika Serikat dan Israel, serta penanganan demonstrasi di dalam negeri Iran.
Sanksi dan Tekanan Militer Terus Berlanjut
Dalam isu nuklir, salah satu perbedaan utama terletak pada tuntutan Iran untuk tetap memperkaya uranium. Iran menyatakan bersedia membuka pengawasan ketat atas program nuklirnya guna memastikan tidak digunakan sebagai senjata, dengan syarat pencabutan sanksi ekonomi.
Setelah pembicaraan berakhir, Amerika Serikat justru mengumumkan sanksi baru terhadap minyak Iran dan 14 kapal pengangkutnya. Langkah ini dinilai sebagai upaya mempertahankan tekanan ekonomi.
Pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan bahwa pemerintah Iran terus mengalokasikan sumber daya untuk aktivitas yang dianggap mengganggu stabilitas global, alih-alih memperbaiki kondisi dalam negeri.
Kekhawatiran Eskalasi Konflik
Amerika Serikat juga memindahkan aset militer, termasuk kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln, lebih dekat ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya potensi konflik.
Trump sebelumnya menyebut bahwa armada besar disiagakan sebagai langkah antisipasi. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya terus memantau Iran secara ketat.
Pembicaraan ini sempat memunculkan harapan bahwa konflik berskala besar dapat dihindari. Namun, Trump kembali menegaskan bahwa armada militer besar akan segera tiba di kawasan tersebut.
Di sisi lain, negara-negara kawasan berupaya menurunkan eskalasi dan mencegah terjadinya perang baru yang dikhawatirkan akan memperburuk krisis regional.
Iran sendiri menyatakan bahwa setiap serangan Amerika Serikat tidak akan dibalas dengan sikap menahan diri seperti sebelumnya.
Negara tersebut diketahui memiliki ribuan rudal dan drone, serta jaringan sekutu di berbagai wilayah yang dapat memengaruhi stabilitas kawasan dan jalur energi global.














Belum ada komentar