Dua Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) jajaran Komando Armada II (Koarmada II), yakni KRI Tarakan-905 dan KRI Teluk Banten-516, menggelar latihan antarunsur setingkat L-3 di perairan Laut Jawa, Kamis (22/10/2026).
Kedua kapal tersebut tengah melaksanakan tugas Bawah Kendali Operasi (BKO) Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Koarmada III. Latihan ini bertujuan meningkatkan profesionalisme, kemampuan, dan kesiapsiagaan prajurit dalam mendukung operasi laut, khususnya untuk menjaga keamanan dan kedaulatan wilayah perairan Indonesia.
Berdasarkan keterangan Koarmada II yang disampaikan melalui akun Instagram @koarmada2 dan @satkor2 pada Jumat (23/10/2026), latihan tersebut mencakup sejumlah materi kerja sama taktis untuk memperkuat koordinasi dan efektivitas operasi antarkapal.
Dalam latihan tersebut, kedua unsur KRI melaksanakan beberapa serial kegiatan, yakni Replenishment at Sea (RAS), Flaghoist, Flashex, dan Tactical Maneuver.
RAS merupakan latihan pengisian perbekalan antarkapal di laut. Sementara itu, Flaghoist melatih komunikasi menggunakan isyarat bendera, sedangkan Flashex mengasah keterampilan komunikasi melalui isyarat cahaya. Adapun Tactical Maneuver berfokus pada kemampuan melaksanakan manuver taktis secara terkoordinasi.
Rangkaian latihan ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan prajurit dalam berkomunikasi, melakukan pengisian perbekalan di laut, serta mengoordinasikan pergerakan kapal selama menjalankan tugas operasi.
Melalui latihan tersebut, kedua unsur KRI diharapkan semakin siap bekerja sama dalam menghadapi dinamika penugasan di wilayah perairan Indonesia.
Pelaksanaan latihan antarunsur ini juga menjadi bagian dari implementasi arahan Panglima Koarmada II Laksamana Muda TNI I. G. P. Alit Jaya, S.H., M.Si., untuk meningkatkan profesionalisme, kesiapsiagaan, dan kemampuan operasional prajurit serta unsur KRI.
Koarmada II menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kekuatan laut yang tangguh, responsif, dan mampu bersinergi dalam mendukung pelaksanaan tugas TNI Angkatan Laut.
Latihan ini sekaligus menjadi upaya memelihara kemampuan personel dan kesiapan operasional kapal perang dalam menjalankan tugas menjaga keamanan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Profil KRI Tarakan-905

KRI Tarakan-905 merupakan kapal bantu cair minyak (BCM) milik TNI Angkatan Laut yang dibangun oleh galangan kapal dalam negeri, PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari. Mengutip profil kapal di Wikipedia, kapal ini diresmikan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro pada 26 September 2014.
KRI Tarakan memiliki panjang 122,4 meter dan lebar sekitar 16,5 meter. Kapal ini dilengkapi geladak helikopter yang dapat digunakan oleh helikopter berukuran sedang.
Bobot kosong kapal tersebut mencapai sekitar 2.400 ton. Sebagai kapal pendukung logistik, KRI Tarakan mampu menampung bahan bakar minyak hingga 5.500 meter kubik. Kapal ini memiliki kecepatan maksimum sekitar 18 knot dan jangkauan pelayaran hingga 7.680 mil laut.
Untuk pertahanan diri, KRI Tarakan dilengkapi dua meriam kaliber 20 milimeter serta dua senapan mesin kaliber 12,7 milimeter, berdasarkan informasi dalam profil kapal tersebut.
Kemampuan membawa bahan bakar dan memberikan dukungan logistik menjadikan KRI Tarakan berperan penting dalam mendukung keberlanjutan operasi unsur-unsur TNI AL di laut.
Profil KRI Teluk Banten-516

Berbeda dengan KRI Tarakan yang berfungsi sebagai kapal bantu cair minyak, KRI Teluk Banten-516 merupakan kapal pendarat tank atau Landing Ship Tank (LST) kelas Teluk Semangka milik TNI Angkatan Laut.
Mengutip profil kapal di Wikipedia, KRI Teluk Banten dibangun oleh Korea Tacoma Shipyard di Masan, Korea Selatan. Kapal tersebut dipesan pada Juni 1981 dan mulai bertugas pada Mei 1982.
KRI Teluk Banten memiliki panjang sekitar 100 meter, lebar 14,4 meter, dan sarat air 4,2 meter. Bobot perpindahannya mencapai sekitar 3.750 ton panjang saat bermuatan penuh.
Kapal ini menggunakan dua mesin diesel dengan daya total sekitar 12.800 tenaga kuda metrik. Kecepatan maksimumnya mencapai sekitar 15 knot, sedangkan jangkauan pelayarannya sekitar 7.500 mil laut pada kecepatan 13 knot.
Sebagai kapal pendarat tank, KRI Teluk Banten mampu mengangkut hingga 200 personel dan muatan sekitar 1.800 ton panjang, termasuk kendaraan tempur. Kapal ini juga dilengkapi empat Landing Craft Vehicle Personnel (LCVP) untuk mendukung pemindahan personel atau kendaraan dari kapal menuju pantai.
Kapal tersebut memiliki dek helikopter dan fasilitas hanggar di bagian buritan. Berdasarkan profil yang tersedia, fasilitas itu dapat menampung hingga tiga helikopter Eurocopter AS332 Super Puma.
Persenjataannya mencakup dua meriam Bofors kaliber 40 milimeter, dua meriam otomatis Rheinmetall kaliber 20 milimeter, dan dua senapan mesin berat DShK kaliber 12,7 milimeter.
Dalam riwayat penugasannya, KRI Teluk Banten pernah terlibat dalam sejumlah operasi. Di antaranya adalah pengamanan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Filipina pada 1987, pencegatan kapal Portugis Lusitania Expresso di perairan Timor Timur pada 1992, serta pengiriman bantuan dan evakuasi warga pascatsunami Aceh pada Januari 2005.
Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa peran kapal pendarat tank tidak terbatas pada pengangkutan personel dan kendaraan. Kapal ini juga dapat mendukung operasi bantuan kemanusiaan dan berbagai tugas keamanan laut.
View this post on Instagram













Belum ada komentar