Qatar Peringatkan Krisis Energi Global Bisa Memburuk akibat Perang Iran

Qatar Peringatkan Krisis Energi Global Bisa Memburuk akibat Perang Iran
ejatimnews,

Qatar memperingatkan dampak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran terhadap pasokan energi serta perekonomian global belum mencapai puncaknya. Gangguan di Selat Hormuz dan kerusakan fasilitas energi di kawasan Teluk berpotensi menimbulkan konsekuensi lebih besar dalam beberapa bulan mendatang.

Peringatan itu disampaikan Wakil Perdana Menteri Qatar sekaligus Menteri Negara Urusan Pertahanan, Sheikh Saoud bin Abdulrahman Al Thani, dalam forum Global Security Forum di Doha, Senin (19/10/2026).

Menurutnya, ketidakpastian pasokan energi dan perdagangan internasional masih menjadi persoalan serius seiring berlanjutnya ketegangan di Timur Tengah.

“Kita belum mencapai puncak dampak terhadap sektor energi,” kata Al Thani, seperti diberitakan Al Jazeera, Senin (19/10/2026). Ia memperingatkan dampak lanjutan masih mungkin terasa dalam beberapa hari dan bulan mendatang.

Pernyataan tersebut muncul setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 memicu ketegangan regional, termasuk serangan balasan Iran terhadap sejumlah sasaran di kawasan Teluk.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik penting dalam krisis tersebut. Jalur perairan ini merupakan rute strategis bagi pengiriman minyak dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari kawasan Teluk ke pasar internasional.

Gangguan terhadap pelayaran di jalur tersebut berpotensi memengaruhi distribusi energi, perdagangan, dan biaya pengiriman.

Al Thani menolak penerapan pungutan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Menurutnya, kebijakan semacam itu akan menambah ketidakpastian dalam perdagangan internasional dan pada akhirnya berdampak kepada konsumen.

“Biaya transit tidak boleh diterapkan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa keamanan jalur pelayaran perlu dijaga agar distribusi energi dan perdagangan dunia tidak menghadapi hambatan tambahan.

Qatar juga menghadapi dampak langsung konflik tersebut. Serangan terhadap kompleks industri Ras Laffan pada Maret 2026 menyebabkan kerusakan fasilitas, dengan proses perbaikan diperkirakan membutuhkan waktu beberapa tahun.

Ras Laffan merupakan kawasan industri penting bagi sektor gas alam cair Qatar. Gangguan di fasilitas ini menjadi perhatian karena Qatar merupakan salah satu pemasok utama LNG di pasar dunia.

Al Thani mengakui serangan tersebut mengejutkan pemerintah Qatar. Ia mengatakan Doha kemudian meningkatkan perhatian terhadap perlindungan aset strategis untuk mengantisipasi kemungkinan serangan berikutnya.

“Kami terkejut,” katanya ketika membahas serangan terhadap fasilitas tersebut. Ia menambahkan bahwa setelah kejadian itu, Qatar melakukan banyak pembicaraan dengan Iran.

Menurut Al Thani, pemerintah Qatar mengambil pelajaran dari serangan tersebut untuk memastikan aset-aset strategis lebih terlindungi dari serangan yang tidak terduga.

Di tengah ketegangan, Qatar menyatakan tetap menjaga komunikasi dengan Iran. Al Thani mengatakan hubungan kedua negara tidak sepenuhnya terputus meskipun terdapat perbedaan pandangan dan konflik yang melibatkan kawasan.

“Kami tidak pernah menghentikan komunikasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan Qatar dan Iran memiliki kepentingan ekonomi yang saling berkaitan, termasuk keberadaan ladang gas lepas pantai yang mereka miliki bersama.

Promo Perumahan Grand Eastern

Al Thani berharap upaya mediasi yang melibatkan Qatar, Pakistan, dan Oman dapat membantu membuka jalan menuju kesepakatan antara Amerika Serikat, Iran, serta pihak-pihak lain yang terlibat, termasuk Israel.

Menurutnya, penyelesaian yang berkelanjutan membutuhkan dialog lebih luas yang melibatkan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC), Pakistan, dan Turki, dengan berkonsultasi bersama mitra internasional.

“Kita perlu membangun ini di atas kepercayaan,” katanya.

Al Thani juga mendorong pengembangan hubungan ekonomi dengan Iran sebagai salah satu cara mencegah konflik serupa pada masa mendatang. Ia mencontohkan kerja sama Prancis dan Jerman setelah melewati sejarah permusuhan panjang.

“Iran adalah tetangga kami. Kami perlu menemukan cara untuk hidup bersama mereka,” ujarnya.

Selain mendorong diplomasi, Qatar menegaskan komitmennya memperkuat pertahanan nasional. Al Thani menyoroti kerja sama pertahanan jangka panjang dengan Amerika Serikat yang menurutnya berperan penting dalam menghadapi serangan selama konflik.

Ia mengatakan lebih dari 90 persen serangan berhasil dicegah berkat keahlian bersama dan kemampuan militer yang dikembangkan selama tiga hingga empat dekade terakhir.

Qatar juga melanjutkan pengembangan Pangkalan Udara Al Udeid, yang menjadi tempat penempatan pasukan AS dan personel militer dari negara mitra. Pangkalan tersebut turut menjadi sasaran Iran selama konflik.

Al Thani mengungkapkan Qatar tengah menyiapkan kemitraan pertahanan regional baru. Kerja sama itu akan mencakup penguatan pertahanan udara, penanggulangan drone, dan keamanan siber.

Ia belum menyebutkan negara-negara yang akan terlibat dalam kemitraan tersebut. Namun, pengumuman lebih lanjut disebut akan disampaikan dalam waktu dekat.

Al Thani menegaskan bahwa peran Qatar sebagai mediator tidak berarti negaranya mengabaikan pertahanan wilayah sendiri.

“Mediasi bukan berarti kami tidak harus siap mengambil tindakan defensif,” katanya.

Pernyataan Qatar memperlihatkan dua pendekatan yang berjalan bersamaan: mempertahankan komunikasi diplomatik dengan Iran sekaligus memperkuat perlindungan terhadap wilayah dan infrastruktur strategis.

Di tengah ketidakpastian konflik, perkembangan di Selat Hormuz, keamanan fasilitas energi, dan keberlanjutan jalur perdagangan menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi pasokan energi serta perekonomian global dalam beberapa bulan mendatang.

Banner Iklan Website

Belum ada komentar

Kirim Berita Anda

Punya kegiatan, rilis resmi, atau informasi menarik? Kirimkan berita dan foto ke redaksi ejatimnews.com.

Terbuka untuk sekolah, kampus, instansi, dan komunitas.

Kirim via Email