Persaingan perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026 menghadirkan situasi unik bagi General Manager Ducati Corse, Gigi Dall’Igna. Ia harus menghadapi Aprilia, pabrikan yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya, sekaligus Jorge Martin dan Marco Bezzecchi, dua pembalap yang sebelumnya pernah membela Ducati.
Persaingan semakin ketat menjelang lima seri terakhir musim ini. Martin yang kini memperkuat Aprilia memimpin klasemen dengan 355 poin, hanya unggul dua poin dari Marc Marquez yang mengoleksi 353 poin bersama Ducati. Sementara itu, Bezzecchi berada di posisi ketiga dengan selisih 46 poin dari Martin. Data tersebut merujuk pada klasemen setelah Grand Prix Indonesia, mengutip Reuters, 11 Oktober 2026.
Dalam wawancara dengan Crash.net yang diterbitkan pada 17 Oktober 2026, Dall’Igna mengakui persaingan musim ini terasa berbeda karena mempertemukannya dengan orang-orang dan pabrikan yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan profesionalnya.
Sebelum bergabung dengan Ducati pada 2013, Dall’Igna memiliki pengalaman panjang bersama Aprilia. Kini, pabrikan yang pernah menjadi tempatnya berkarier itu justru menjadi pesaing utama Ducati dalam perebutan gelar dunia.
Situasinya semakin menarik karena Martin dan Bezzecchi, yang sekarang memperkuat Aprilia, juga memiliki sejarah bersama Ducati.
Martin meraih gelar juara dunia MotoGP 2024 bersama Pramac Ducati. Namun, ia kemudian pindah ke Aprilia setelah Ducati memilih Marc Marquez untuk mengisi kursi tim pabrikan.
Sementara itu, Bezzecchi sebelumnya membalap bersama VR46 sebelum melanjutkan kariernya di Aprilia. Perpindahan kedua pembalap tersebut membuat Ducati kini harus menghadapi mantan pembalapnya sendiri dalam persaingan menuju akhir musim.
Dall’Igna mengakui hubungan masa lalu itu membuat persaingan kali ini memiliki nuansa tersendiri.
“Benar, pada akhirnya ini memang masa lalu saya karena mereknya. Ini juga masa lalu saya karena para pembalapnya, sebab kedua pembalap Aprilia itu pernah menjadi pembalap saya,” kata Dall’Igna, seperti dikutip dari Crash.net.
Ia mengaku belum terlalu memikirkan sisi personal tersebut, meskipun menganggapnya sebagai situasi yang menarik.
Meski Ducati dan Aprilia kini bersaing memperebutkan gelar, Dall’Igna menegaskan hubungan profesionalnya dengan orang-orang di Aprilia tetap terjaga.
Ia menyebut masih memiliki banyak teman di pabrikan tersebut. Karena itu, jika Ducati harus dikalahkan oleh pesaingnya, ia merasa hasil tersebut lebih mudah diterima apabila datang dari orang-orang yang dikenalnya dengan baik.
“Saya punya banyak teman di Aprilia. Tentu saja, jika ada yang harus mengalahkan kami, menurut saya lebih baik mereka adalah teman-teman kami. Begitulah,” ujar Dall’Igna.
Pernyataan itu tidak mengurangi ketatnya persaingan kedua pabrikan. Ducati tetap berupaya mempertahankan gelar, sedangkan Aprilia memiliki peluang untuk membawa Martin atau Bezzecchi menjadi juara dunia.
Dikutip dari Moto.it, dalam sesi wawancara bersama pimpinan Aprilia, Massimo Rivola, Dall’Igna juga menjelaskan bahwa keberadaan pembalap-pembalap yang pernah dibinanya di tim pesaing merupakan sesuatu yang membanggakan dari sisi perkembangan teknis MotoGP. Namun, ketika berada di lintasan, mereka tetap harus diperlakukan sebagai rival.
Persaingan menuju gelar dunia juga memperlihatkan perbedaan kekuatan kedua pabrikan dalam klasemen pembalap. Aprilia memiliki Martin dan Bezzecchi di tiga besar, sedangkan Ducati saat ini lebih bergantung pada Marquez untuk bersaing di papan atas.
Kondisi tersebut membuat Ducati harus memaksimalkan setiap kesempatan yang tersedia. Selisih dua poin antara Martin dan Marquez berarti satu hasil balapan dapat mengubah posisi teratas klasemen.
Dall’Igna pun mengakui dirinya menginginkan lebih banyak pembalap Ducati berada di barisan depan dan terlibat dalam perebutan gelar.
“Menurut saya, semakin banyak pembalap yang berada di depan, semakin baik. Jadi, saya ingin memiliki lebih dari satu pembalap di posisi terdepan,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan pentingnya kekuatan tim secara keseluruhan dalam kejuaraan. Kehadiran beberapa pembalap yang mampu meraih hasil tinggi dapat memperbesar peluang pabrikan mengumpulkan poin dan menjaga persaingan tetap terbuka.
Setelah Grand Prix Indonesia, Martin kembali memimpin klasemen dengan 355 poin. Marquez menempati posisi kedua dengan 353 poin, sedangkan Bezzecchi mengumpulkan 309 poin.
Hasil di Mandalika memperlihatkan ketatnya persaingan tersebut. Bezzecchi memenangi balapan utama, Raul Fernandez finis kedua, dan Martin mengamankan posisi ketiga. Marquez menyelesaikan balapan di urutan keenam.
Hasil itu membuat Martin mempertahankan keunggulan tipis atas Marquez. Dengan lima seri tersisa menurut laporan Crash.net pada 17 Oktober 2026, peluang kedua pembalap masih terbuka.
Bagi Dall’Igna, pertarungan musim ini bukan hanya soal mempertahankan dominasi Ducati, tetapi juga menghadapi kembali masa lalu yang kini menjadi ancaman langsung. Aprilia memiliki dua pembalap di tiga besar, sementara Ducati berusaha menjaga Marquez tetap dalam persaingan hingga putaran terakhir.
Hubungan personal antara Dall’Igna dan Aprilia mungkin memberi warna berbeda pada persaingan tersebut. Namun, hasil di lintasan tetap menjadi penentu siapa yang akan mengakhiri musim MotoGP 2026 sebagai juara dunia.









Belum ada komentar