Otoritas Bulgaria menghentikan operasi pencarian awak kapal kargo Alfa Watan yang tenggelam setelah terkena serangan drone di Laut Hitam. Hingga pencarian berakhir pada Selasa (6/10/2026), tidak ada awak kapal yang ditemukan.
Kepala otoritas pencarian dan penyelamatan maritim Bulgaria, Rumen Nikolov, mengatakan tim penyelamat tidak menemukan tanda-tanda keberadaan awak kapal tersebut. Operasi tidak akan dilanjutkan, menurut laporan yang disampaikan pada Rabu (7/10/2026).
“Tidak ada jejak para pelaut dari kapal pertama, dan memang tidak akan ada,” kata Nikolov kepada wartawan, sebagaimana dikutip Reuters.
Tim penyelamat hanya menemukan sebuah sekoci yang terbalik, tiga rakit penyelamat, serta sejumlah bagian peralatan kapal yang mengapung di permukaan laut. Otoritas juga belum memperoleh informasi mengenai puing-puing drone yang diduga terlibat dalam serangan tersebut.
Reuters melaporkan, Nikolov menyebut 12 awak asal Suriah diperkirakan berada di kapal yang tenggelam. Namun, laporan Al Jazeera mengutip situs maritim Maritime.bg yang menyebut terdapat 10 orang di kapal tersebut. Hingga laporan itu diterbitkan, jumlah awak yang hilang belum dipastikan secara konsisten oleh sumber-sumber tersebut.
Serangan terjadi pada Selasa dini hari (6/10/2026) di zona ekonomi eksklusif Bulgaria di Laut Hitam, tidak jauh dari kawasan pesisir Byala. Dua kapal komersial dilaporkan terkena serangan drone udara dan laut.
Kapal Alfa Watan yang mengibarkan bendera Togo mengalami kerusakan parah hingga tenggelam. Sementara itu, kapal Able yang berbendera Palau terbakar setelah diserang.
Sebanyak 18 awak kapal Able, yang terdiri atas warga negara Turki dan India, berhasil dievakuasi. Dua orang dilaporkan mengalami luka serius dan dibawa ke rumah sakit di Varna, Bulgaria.
Kedua kapal tersebut dikelola perusahaan yang berbasis di Turki, berdasarkan data basis data pelayaran komersial Equasis yang dikutip Al Jazeera.
Menurut Nikolov, sinyal darurat dari Alfa Watan diterima pada pukul 02.54 waktu setempat, sedangkan sinyal dari kapal Able diterima pada pukul 03.23.
Pemerintah Bulgaria belum dapat memastikan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Perdana Menteri Bulgaria Rumen Radev mengecam insiden itu sebagai tindakan yang tidak dapat diterima. Ia juga menyatakan bahwa karakteristik muatan dan arah pelayaran kapal dapat mengarah pada dugaan keterlibatan Rusia, tetapi menegaskan bahwa dugaan tersebut belum cukup untuk menetapkan pelaku tanpa bukti.
“Namun, itu tidak berarti kita dapat menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh Rusia tanpa bukti,” kata Radev, sebagaimana dikutip Reuters.
Kedutaan Besar Rusia di Sofia membantah bahwa kapal dagang tersebut termasuk sasaran serangan drone Rusia pada Selasa. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuduh Rusia berada di balik serangan tersebut.
Meski demikian, otoritas Bulgaria masih menyelidiki asal drone yang digunakan. Karena itu, keterlibatan pihak tertentu belum dapat dinyatakan sebagai fakta yang telah terkonfirmasi.
Insiden di perairan Bulgaria terjadi sehari setelah sebuah kapal lain terbakar dan tenggelam di Laut Hitam, dekat pantai Rumania. Peristiwa pada Senin (5/10/2026) tersebut menewaskan dua orang, menurut laporan Al Jazeera dan Reuters.
Rangkaian kejadian ini menambah kekhawatiran mengenai keselamatan kapal-kapal komersial di kawasan Laut Hitam, yang menjadi salah satu wilayah penting bagi aktivitas pelayaran di tengah perang Rusia-Ukraina.
Bagi Bulgaria, serangan terhadap dua kapal tersebut juga memunculkan persoalan keamanan maritim di zona ekonomi eksklusifnya. Wilayah ini berada di luar laut teritorial negara, tetapi insiden tersebut tetap memerlukan penanganan penyelamatan dan penyelidikan oleh otoritas terkait.
Penghentian pencarian Alfa Watan menandai berakhirnya upaya penyelamatan awak kapal yang belum ditemukan. Sementara itu, penyelidikan mengenai asal drone dan pihak yang bertanggung jawab atas serangan masih menjadi persoalan yang belum terjawab.











Belum ada komentar