Dalam dunia jurnalistik, mendapatkan narasumber penting tidak selalu semudah mengirim pesan atau melakukan panggilan telepon. Ada kalanya seorang jurnalis harus menunggu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan demi mendapatkan kesempatan wawancara.
Pengalaman itulah yang dialami Agus Wahyudi saat berusaha mewawancarai tokoh media nasional, Dahlan Iskan, untuk kebutuhan tesisnya.
Wawancara tersebut bukan dilakukan untuk kepentingan pemberitaan harian, melainkan sebagai bagian dari penelitian akademik mengenai gaya bahasa mantan pemimpin Jawa Pos dan mantan Menteri BUMN tersebut.
Namun proses menuju wawancara itu ternyata tidak mudah.
Agus mengaku awalnya mencoba menghubungi Dahlan Iskan melalui WhatsApp.
Saat itu Dahlan merespons dan menyampaikan bahwa dirinya sedang berada di Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Shanghai. Ia meminta agar pertemuan dilakukan setelah kembali ke Indonesia.
Namun setelah waktu yang dijanjikan berlalu, jadwal wawancara belum juga terlaksana.
Beberapa kali komunikasi dilakukan, tetapi kesibukan Dahlan Iskan membuat pertemuan tersebut terus tertunda.
Situasi seperti ini sebenarnya cukup umum dalam dunia jurnalistik, terutama ketika berhadapan dengan tokoh publik yang memiliki aktivitas padat.
Alih-alih menyerah, Agus memilih untuk terus mencari peluang.
Ia mendatangi beberapa kegiatan yang dihadiri Dahlan Iskan dengan harapan dapat menyampaikan kembali maksud wawancaranya secara langsung.
Pada salah satu kesempatan, ia berhasil bertemu dan menjelaskan kebutuhan penelitiannya.
Meski saat itu wawancara belum bisa dilakukan karena jadwal yang padat, ia memperoleh secercah harapan ketika Dahlan menawarkan kemungkinan pertemuan di lain waktu.
Namun proses tersebut masih belum berakhir.
Momentum yang ditunggu akhirnya datang setelah Agus memperoleh informasi mengenai kegiatan yang akan dihadiri Dahlan Iskan di Surabaya.
Tanpa menunggu lama, ia mendatangi lokasi acara lebih awal dan menunggu kesempatan untuk bertemu.
Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil.
Di sela kegiatan yang berlangsung, Dahlan Iskan bersedia meluangkan waktu sekitar 15 menit untuk menjawab sejumlah pertanyaan terkait penelitian yang sedang dilakukan.
Bagi sebagian orang, 15 menit mungkin bukan waktu yang lama. Namun bagi seorang peneliti yang telah menunggu cukup panjang, waktu tersebut sangat berarti.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa mendapatkan informasi berkualitas sering kali membutuhkan proses yang tidak singkat.
Dalam praktik jurnalistik, kemampuan membangun komunikasi, menjaga etika, serta menghormati waktu narasumber menjadi faktor yang tidak kalah penting dibanding kemampuan menulis.
Selain itu, ketekunan dan kesabaran juga menjadi modal utama ketika berhadapan dengan tokoh yang memiliki jadwal sangat padat.
Tidak semua pintu akan langsung terbuka pada percobaan pertama.
Pada akhirnya, keberhasilan melakukan wawancara bukan hanya soal mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.
Ada proses panjang yang mengajarkan pentingnya konsistensi, kesungguhan, dan kemampuan membaca momentum.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa dalam dunia jurnalistik maupun penelitian, hasil yang diperoleh sering kali merupakan akumulasi dari usaha kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
Dan terkadang, nilai terbesar bukan hanya terletak pada hasil wawancara itu sendiri, melainkan pada perjalanan panjang untuk mendapatkannya.





Belum ada komentar