Amerika Serikat menegaskan akan melanjutkan blokade militer terhadap pelabuhan Iran, termasuk di kawasan strategis Selat Hormuz dan Teluk, di tengah jeda konflik yang masih berlangsung.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa kebijakan tersebut akan diterapkan tanpa batas waktu, sembari menegaskan kesiapan militer negaranya.
Dikutip dari Al Jazeera, Hegseth menyebut Washington tetap dalam posisi siaga tinggi terhadap pergerakan militer Iran.
“Kami sedang memperkuat kembali dengan kekuatan yang belum pernah sebesar ini sebelumnya, dan yang lebih penting, dengan intelijen yang jauh lebih baik dari sebelumnya,” kata Hegseth.
Ia juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat telah menargetkan infrastruktur vital Iran, termasuk sektor energi dan pembangkit listrik.
“Setiap pergerakan Anda berada dalam pantauan kami. Kami telah siap menyerang infrastruktur penting Anda yang bersifat ganda, termasuk pembangkit listrik dan industri energi,” ujarnya.
Kebijakan blokade ini sebelumnya diumumkan oleh Presiden Donald Trump setelah perundingan antara AS dan Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.
Meski demikian, Hegseth menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi opsi utama untuk mengakhiri konflik yang dimulai sejak serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
“Anda, Iran, bisa memilih masa depan yang sejahtera, sebuah jembatan menuju kemakmuran, dan kami berharap itu demi rakyat Iran. Sementara itu, selama diperlukan, kami akan tetap mempertahankan blokade ini,” katanya.
Namun, ia juga memberikan peringatan keras jika Iran mengambil langkah yang dinilai keliru.
“Jika Iran memilih jalan yang salah, maka mereka tidak hanya menghadapi blokade, tetapi juga serangan terhadap infrastruktur, listrik, dan sektor energi mereka.”
Di sisi lain, upaya diplomasi masih terus berjalan. Delegasi Pakistan dilaporkan telah tiba di Teheran untuk memfasilitasi putaran negosiasi baru antara kedua negara.
Meski ada sinyal keterbukaan dialog, ketegangan tetap tinggi. Komandan militer Iran dari Korps Garda Revolusi (IRGC) memperingatkan bahwa blokade AS dapat mengakhiri jeda konflik yang sedang berlangsung.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa AS masih optimistis terhadap proses negosiasi.
“Saat ini kami masih sangat terlibat dalam perundingan dan pembicaraan tersebut,” ujarnya.
Namun, laporan dari Teheran menunjukkan tingkat ketidakpercayaan yang tinggi terhadap Amerika Serikat, terutama setelah serangan militer terjadi di tengah proses negosiasi terkait program nuklir Iran.
Sementara itu, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, mengungkapkan bahwa sedikitnya 13 kapal yang hendak keluar dari pelabuhan Iran telah berbalik arah setelah mendapat peringatan militer.
“Jika Anda tidak mematuhi blokade ini, kami akan menggunakan kekuatan,” tegasnya.
Di sisi lain, Komandan CENTCOM, Brad Cooper, menyatakan bahwa militer AS memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat kesiapan tempur.
“Kami sedang memperkuat persenjataan, memperbarui sistem, dan menyesuaikan taktik serta prosedur kami. Tidak ada militer di dunia yang beradaptasi secepat kami,” katanya.
Dalam konferensi pers yang sama, Hegseth juga membantah laporan bahwa China akan mengirimkan senjata ke Iran. Ia menyebut Washington telah menerima jaminan dari Beijing bahwa hal tersebut tidak benar.
Selain itu, ia juga mengkritik pemberitaan media AS yang dinilai tidak mendukung kebijakan pemerintah.
Hegseth menyebut sejumlah laporan media tersebut sebagai “sangat tidak patriotik”.











Belum ada komentar