Pakistan Sebut Ada Terobosan Besar Negosiasi Nuklir AS-Iran

Pakistan Sebut Ada Terobosan Besar Negosiasi Nuklir AS-Iran
ejatimnews,

Harapan akan berakhirnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran mulai menguat. Pemerintah Pakistan menyebut adanya peluang “terobosan besar” dalam negosiasi terkait program nuklir Teheran.

Dikutip dari AlJazeera, optimisme ini muncul seiring meningkatnya peran diplomasi Pakistan dalam menjembatani komunikasi antara Washington dan Teheran.

Delegasi tingkat tinggi Pakistan yang dipimpin Panglima Angkatan Darat Asim Munir diketahui telah tiba di Teheran untuk menyampaikan pesan dari Amerika Serikat kepada pemerintah Iran.

Kedatangannya disambut oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang mengapresiasi peran Pakistan dalam memfasilitasi dialog kedua negara.

Selain menyampaikan pesan diplomatik, delegasi tersebut juga berupaya membuka jalan bagi putaran lanjutan perundingan antara AS dan Iran.

Jurnalis Al Jazeera, Osama Bin Javaid, melaporkan bahwa pejabat Pakistan melihat adanya kemajuan signifikan dalam negosiasi.

Ia menyebut kedua pihak masih berupaya mencari titik temu terkait durasi penghentian pengayaan uranium oleh Iran, yang saat ini menjadi isu utama.

“Kedua pihak saat ini berada di antara opsi penghentian pengayaan uranium selama lima tahun hingga 20 tahun. Namun, ada kemungkinan solusi kompromi di tengah,” ujarnya.

Selain itu, pembahasan juga mencakup nasib sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya oleh Iran. Beberapa opsi yang dibahas antara lain mengirimkannya ke negara ketiga atau menurunkan tingkat pengayaan ke level rendah.

Menurut sumber yang sama, kemajuan signifikan telah dicapai dan Pakistan diyakini mampu meyakinkan Iran untuk mencapai kesepakatan.

Upaya diplomasi ini dilakukan setelah perundingan sebelumnya di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Saat ini, mediator berfokus pada tiga isu utama, yakni program nuklir Iran, kendali atas Selat Hormuz, serta kompensasi akibat perang.

Konflik yang dimulai sejak 28 Februari akibat serangan AS dan Israel ke Iran telah menewaskan lebih dari 3.000 orang di Iran. Situasi tersebut juga memicu eskalasi di kawasan, termasuk serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk serta konflik lanjutan di Lebanon.

Meski gencatan senjata antara AS dan Iran yang berlaku sejak 8 April menghentikan serangan langsung di wilayah Iran dan Teluk, ketegangan tetap berlanjut, terutama akibat operasi militer Israel di Lebanon.

Di sisi lain, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga melakukan kunjungan ke sejumlah negara di kawasan, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Turkiye, sebagai bagian dari upaya diplomasi paralel.

Langkah ini disebut sebagai strategi ganda untuk memperkuat peluang tercapainya kesepakatan damai, sekaligus meredam pihak-pihak yang berpotensi menghambat proses negosiasi.

Beberapa pihak yang disebut berpotensi menjadi penghambat antara lain kelompok di Iran, Amerika Serikat, serta Israel yang dinilai tidak menginginkan kesepakatan damai.

Sinyal positif juga datang dari Presiden Donald Trump yang menyebut dunia akan menyaksikan perkembangan signifikan dalam waktu dekat.

Ia mengatakan konflik dengan Iran “sangat dekat untuk berakhir”.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, turut menyampaikan optimisme serupa.

“Kami merasa optimistis terhadap peluang tercapainya kesepakatan,” ujarnya.

Meski demikian, situasi di lapangan masih penuh tantangan. Blokade militer AS terhadap pelabuhan Iran di Selat Hormuz masih berlangsung, bahkan dilaporkan telah memaksa sejumlah kapal untuk berbalik arah.

Iran mengecam kebijakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata. Bahkan, militer Iran mengancam akan membalas dengan memblokir jalur perdagangan di kawasan lain, termasuk Laut Merah dan Teluk Oman.

Ketegangan ini menunjukkan bahwa meskipun peluang damai mulai terlihat, jalan menuju kesepakatan masih dipenuhi tantangan geopolitik yang kompleks.

Belum ada komentar