Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen telah memberikan respons positif di pasar keuangan. Indikasinya terlihat dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pada perdagangan Selasa (9/6/2026), IHSG ditutup di level 5.746,64 atau naik 7,57 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pada hari yang sama, nilai tukar rupiah juga menguat 130 poin atau sekitar 0,71 persen menjadi Rp18.058 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp18.188 per dolar AS.
Menurut Airlangga, pergerakan positif tersebut menunjukkan bahwa kebijakan kenaikan BI Rate diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika pasar global.
“Jadi dengan BI rate naik kelihatan respons daripada IHSG juga baik, masuk dalam green zone. Kemudian yang kedua rupiah juga sedikit menguat,” ujar Airlangga saat ditemui di kantornya di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Ia mengatakan pasar memberikan respons yang baik terhadap langkah stabilisasi yang dilakukan melalui kebijakan suku bunga acuan tersebut.
“Oleh karena itu tentu kita terus mengutamakan stabilisasi dari ekonomi, karena ekonomi memang dasarnya juga kuat ya, baik dari segi ekspor, dari segi makro,” ungkapnya.
Airlangga mengakui keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan terkesan mendadak bagi sebagian pihak. Namun menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk memberikan kepastian kepada pasar yang tengah menghadapi berbagai gejolak.
“Karena ini memang market membutuhkan signal yang kuat. Dan dengan kenaikan BI Rate 25 basis point itu, market melihat Indonesia responsif terhadap gejolak ataupun situasi yang ada sekarang,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Airlangga juga menyampaikan hasil pertemuannya dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Gan Kim Yong, dalam The 16th Ministerial Meeting of the Six Working Groups yang berlangsung di Jakarta.
Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat kerja sama ekonomi bilateral pada enam sektor utama, yakni proyek Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) serta kawasan ekonomi khusus lainnya, investasi, pengembangan sumber daya manusia, transportasi, agribisnis, dan pariwisata.
Menurut Airlangga, investasi di kawasan BBK sepanjang 2025 mencapai USD 5,7 miliar atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Beberapa hal yang saya catat kerjasama bersama di BBK di tahun 2025, investasinya sebesar USD 5,7 miliar, dan ini naik dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga berencana memperluas kawasan Batam Free Trade Zone dari delapan pulau menjadi 22 pulau. Pengembangan Nongsa Digital Park akan terus dilanjutkan, sementara Kendal Industrial Park direncanakan mendapat tambahan area seluas 1.000 hektare dengan status kawasan ekonomi khusus.
Di sektor energi hijau, Indonesia dan Singapura juga akan merealisasikan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 200 megawatt di Sulawesi Tengah.
Sementara pada bidang pengembangan sumber daya manusia, kedua negara akan melanjutkan program pertukaran generasi muda untuk mempelajari teknologi digital sebagai bagian dari penguatan ekonomi digital kawasan ASEAN.
“Untuk mengimplementasikan daripada digital economy yang direncanakan tahun ini diselesaikan digital economic framework dalam ASEAN Summit,” ungkap Airlangga.
Kerja sama juga diperluas pada sektor transportasi, agribisnis, hingga pariwisata. Dalam sektor pariwisata, tercatat sekitar 2,44 juta warga Indonesia berkunjung ke Singapura setiap tahun, sedangkan sekitar 1,5 juta wisatawan Singapura datang ke Indonesia.
“Untuk tourism, 2,44 juta orang Indonesia setiap tahun ke Singapura dan 1,5 juta orang Singapura berkunjung ke Indonesia. Jadi ini kerjasama yang baik, dan kami berharap ini akan terus ditingkatkan,” pungkasnya.









Belum ada komentar