Ekspedisi Patriot UNAIR 2026 Dorong Olahan Cabai Bernilai Tambah di Manokwari

Ekspedisi Patriot UNAIR 2026 Dorong Olahan Cabai Bernilai Tambah di Manokwari
ejatimnews,

Fluktuasi harga cabai menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petani di Distrik Prafi, Manokwari, Papua Barat.

Kondisi tersebut mendorong Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (UNAIR) 2026 mengembangkan diversifikasi cabai menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah.

Upaya tersebut tidak hanya diarahkan untuk memanfaatkan hasil pertanian ketika produksi melimpah, tetapi juga membuka peluang penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis potensi masyarakat setempat.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari UNAIR News, program itu menjadi bagian dari Strategi 4: Inkubasi Bisnis dan Hilirisasi Produk dalam rangkaian Ekspedisi Patriot UNAIR 2026 yang berada di bawah koordinasi Prof. Dr. Annis Catur Adi Ir M Si.

Selama Agustus hingga November 2026, tim mendampingi masyarakat di Distrik Prafi untuk mengembangkan potensi cabai menjadi usaha berbasis produk olahan yang berkelanjutan.

Sebelum mengembangkan produk, tim melakukan pemetaan terhadap kondisi pertanian dan peluang usaha yang dapat dikembangkan di Prafi.

Koordinasi dilakukan bersama sejumlah dinas terkait, mulai dari Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian dan UMKM, koperasi, hingga Dinas Kesehatan yang berkaitan dengan pengembangan produk olahan pangan.

Prof. Annis mengatakan fluktuasi harga cabai yang cukup ekstrem dapat berdampak kurang menguntungkan bagi petani. Karena itu, pengembangan yang dilakukan tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan.

“Kami melihat ada fluktuasi harga yang cukup ekstrem. Kondisi tersebut tentu kurang menguntungkan bagi petani. Karena itu, kami tidak ingin sekadar memberikan penyuluhan, tetapi membangun bisnis yang nantinya bisa memberikan dampak nyata dan berbasis pada pembagian manfaat bagi masyarakat,” ujar Prof Annis selaku ketua tim.

Di sisi produksi, tim melakukan sejumlah uji coba pengolahan. Cabai segar yang kondisinya mulai menurun dipisahkan untuk dimanfaatkan dalam eksperimen pengawetan.

Berbagai metode pengeringan juga dicoba dengan ukuran potongan cabai yang berbeda untuk mengetahui proses yang paling sesuai.

Tidak hanya itu, tim turut mengembangkan sejumlah produk lain, seperti dodol cabai yang dikombinasikan dengan tomat, saus tomat cabai, hingga chili oil.

Beragam uji coba tersebut dilakukan untuk menemukan produk yang memungkinkan dibuat oleh masyarakat sekaligus memiliki peluang diterima pasar.

Diversifikasi cabai menjadi salah satu strategi yang dikembangkan karena hasil panen tidak selalu dapat terserap dalam kondisi segar. Ketika produksi melimpah, sebagian cabai berpotensi mengalami kerusakan yang dapat menurunkan nilai ekonominya.

Promo Perumahan Grand Eastern

Melalui pengolahan, cabai diharapkan memiliki masa simpan lebih panjang sekaligus nilai jual yang lebih tinggi.

Salah satu inovasi yang sedang dipersiapkan adalah fasilitas pengeringan berbasis green house dengan atap plastik ultraviolet. Fasilitas tersebut dirancang untuk menyesuaikan proses pengeringan dengan kondisi iklim di wilayah setempat.

“Kalau hanya dijemur biasa, prosesnya sangat bergantung pada kondisi cuaca. Karena itu, kami sedang merancang green house untuk melihat apakah proses pengeringan dapat dilakukan lebih cepat dan menghasilkan kualitas yang lebih baik,” jelasnya.

Ke depan, pengembangan tersebut diarahkan untuk membentuk kelompok usaha UMKM berbasis cabai yang dapat dikelola masyarakat secara mandiri.

Kelompok usaha itu mulai dirintis dengan nama Cabeta atau Cabe Beta.

Melalui kelompok tersebut, masyarakat akan mendapatkan pendampingan dalam pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), kelengkapan usaha, packaging, labeling, hingga strategi pemasaran secara konvensional maupun digital.

Prof. Annis berharap masyarakat tidak hanya memandang pengembangan cabai sebagai pekerjaan sambilan, melainkan sebagai peluang untuk membangun usaha yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Harapannya, masyarakat tidak melihat pengembangan cabai ini hanya sebagai pekerjaan sambilan. Kami ingin memberikan contoh nyata bagaimana sebuah komoditas pertanian dapat dikembangkan menjadi UMKM yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Kalau model ini berhasil, ke depan bukan hanya cabai, tetapi komoditas lain seperti tomat juga bisa dikembangkan,” pungkasnya.

Penguatan kapasitas usaha masyarakat tersebut menjadi bagian dari kontribusi Ekspedisi Patriot UNAIR terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) poin 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Melalui peningkatan nilai tambah produk pertanian, pengembangan UMKM, serta perluasan akses pasar, program tersebut diarahkan untuk mendorong masyarakat memiliki usaha yang lebih produktif, mandiri, dan berkelanjutan.

Pengembangan Cabeta di Prafi diharapkan menjadi salah satu langkah untuk mengolah potensi pertanian lokal menjadi peluang usaha yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Kirim Berita Anda

Punya kegiatan, rilis resmi, atau informasi menarik? Kirimkan berita dan foto ke redaksi ejatimnews.com.

Terbuka untuk sekolah, kampus, instansi, dan komunitas.

Kirim via Email

Belum ada komentar

Kirim Berita Anda

Punya kegiatan, rilis resmi, atau informasi menarik? Kirimkan berita dan foto ke redaksi ejatimnews.com.

Terbuka untuk sekolah, kampus, instansi, dan komunitas.

Kirim via Email