Inflasi Terkendali, Tapi Jangan Lengah: Saatnya Jatim Naik Kelas

Inflasi Terkendali, Tapi Jangan Lengah: Saatnya Jatim Naik Kelas
Oleh : Dr. H. Suli Da'im, M.M. Ketua PWPM Jatim 2006-2010-Dosen FEB Umsura

Rilis inflasi April 2026 oleh Badan Pusat Statistik Jawa Timur yang disampaikan Debora Sukitya Rini memang tampak menenangkan. Angka 2,85 persen (year on year) masih dalam batas aman, bahkan inflasi bulanan yang hanya 0,02 persen memberi kesan bahwa harga-harga relatif stabil. Namun di balik angka itu, tersimpan cerita yang jauh lebih serius: struktur ekonomi daerah sedang diuji oleh tekanan biaya, terutama dari sektor energi dan transportasi.

Kenaikan harga BBM non-subsidi dan avtur yang berdampak pada tiket pesawat serta distribusi logistik adalah contoh nyata bagaimana ekonomi daerah sangat terhubung dengan dinamika global. Dalam perspektif ekonomi makro, ini adalah gejala cost-push inflation, di mana inflasi dipicu oleh kenaikan biaya produksi, bukan lonjakan permintaan. Artinya, persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan operasi pasar atau intervensi jangka pendek.

Di sinilah pentingnya membaca data inflasi bukan sebagai laporan rutin, tetapi sebagai bahan baku utama kebijakan. Dalam pandangan Peter Drucker, “what gets measured gets managed.” Namun dalam praktik tata kelola pemerintahan daerah, sering kali yang terjadi justru sebaliknya: data diukur, dilaporkan, tetapi tidak sepenuhnya dikelola sebagai dasar keputusan strategis.

Jawa Timur sebenarnya memiliki keunggulan: data statistik yang relatif lengkap, sektor ekonomi yang beragam, serta posisi sebagai pusat logistik Indonesia timur. Tetapi keunggulan ini hanya akan berdampak jika dikelola dengan pendekatan manajemen modern—bukan sekadar administratif, melainkan analitis dan prediktif.

Ekonom pembangunan seperti Michael Porter menekankan pentingnya daya saing daerah yang bertumpu pada efisiensi dan produktivitas. Dalam konteks Jawa Timur, daya saing itu sangat ditentukan oleh biaya logistik. Ketika transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar, maka sesungguhnya yang sedang bermasalah adalah efisiensi sistem distribusi.

Sementara itu, Joseph Stiglitz mengingatkan bahwa peran pemerintah bukan hanya menjaga stabilitas, tetapi juga memperbaiki kegagalan pasar (market failure). Dalam kasus ini, volatilitas harga energi global adalah faktor yang tidak bisa dikendalikan daerah, tetapi dampaknya bisa diminimalkan melalui kebijakan yang tepat—mulai dari subsidi terarah, penguatan transportasi publik, hingga investasi pada energi alternatif.

Masalahnya, kebijakan pemerintah daerah sering kali masih bersifat reaktif. Ketika harga naik, dilakukan operasi pasar. Ketika distribusi terganggu, dilakukan sidak. Pendekatan ini penting, tetapi tidak cukup. Dalam kerangka good governance, pemerintah dituntut untuk bergerak dari reactive policy menuju predictive policy.

Di sinilah relevansi konsep data-driven governance menjadi sangat penting. Pemerintah Provinsi Jawa Timur perlu membangun sistem pengelolaan ekonomi yang terintegrasi—semacam pusat kendali berbasis data yang menghubungkan informasi inflasi, distribusi barang, harga energi, hingga produksi sektor riil. Dengan sistem ini, pemerintah tidak lagi bekerja berdasarkan intuisi atau tekanan sesaat, tetapi berdasarkan analisis yang terukur.

Promo Perumahan Grand Eastern

Pendekatan ini juga sejalan dengan pemikiran Douglass North tentang pentingnya institusi dalam pembangunan ekonomi. Bukan hanya kebijakan yang penting, tetapi bagaimana kebijakan itu dirancang, dijalankan, dan dievaluasi secara konsisten. Tanpa tata kelola yang kuat, data yang baik pun tidak akan menghasilkan kebijakan yang efektif.

Tantangan Jawa Timur ke depan bukan sekadar menjaga inflasi tetap rendah, tetapi memastikan bahwa stabilitas tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Sebab ada risiko yang harus diwaspadai: inflasi terkendali, tetapi pertumbuhan melemah. Ini yang dalam literatur ekonomi disebut sebagai jebakan low inflation–low growth.

Karena itu, ada beberapa langkah strategis yang perlu segera diperkuat. Pertama, integrasi data lintas sektor dalam satu sistem kebijakan yang real-time. Kedua, reformasi logistik untuk menekan biaya distribusi. Ketiga, percepatan diversifikasi energi agar tidak terus bergantung pada fluktuasi global. Dan keempat, menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan yang tepat sasaran.

Pada akhirnya, data inflasi April 2026 bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin kualitas tata kelola ekonomi daerah. Jawa Timur tidak sedang dalam krisis, tetapi sedang berada di titik penentuan: apakah akan tetap bertahan dengan pola lama yang reaktif, atau bertransformasi menjadi daerah dengan tata kelola ekonomi modern yang berbasis data.

Karena di era sekarang, kekuatan sebuah daerah tidak lagi ditentukan oleh besarnya sumber daya, tetapi oleh kecerdasannya dalam mengelola data dan mengambil keputusan. Dan di situlah, masa depan ekonomi Jawa Timur sedang dipertaruhkan.

Kirim Berita Anda

Punya kegiatan, rilis resmi, atau informasi menarik? Kirimkan berita dan foto ke redaksi ejatimnews.com.

Terbuka untuk sekolah, kampus, instansi, dan komunitas.

Kirim via Email

Belum ada komentar