Muhammadiyah meluncurkan Mentari Bayt Coin (MBC), wadah penjualan, cicilan, dan tabungan emas yang dikembangkan dengan mengedepankan prinsip inklusivitas dan keadilan.
Kehadiran MBC diarahkan untuk memperkuat ekosistem investasi sekaligus mendukung kemandirian ekonomi Muhammadiyah.
Mengutip Muhammadiyah.or.id, peluncuran MBC berlangsung di Grha Suara Muhammadiyah (SM), Sabtu (19/9).
Kegiatan dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua PP Aisyiyah Salmah Orbayinah, Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diklitbang) PP Muhammadiyah Bambang Setiaji, Kepala Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Muhammad Mufti Mubarok, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Tengah Tafsir, jajaran perbankan, rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA), serta pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Dalam sambutannya, Haedar Nashir mengatakan aktivitas ekonomi dan investasi bukan sesuatu yang baru bagi Muhammadiyah.
Menurutnya, semangat tersebut telah dicontohkan oleh KH Ahmad Dahlan yang pada masa awal gerakannya juga dikenal sebagai pengusaha batik.
“Muhammadiyah generasi awal itu tumbuh di pusat-pusat ekonomi pribumi yang kuat. Seperti di Jogja, kemudian ke Klaten, Surakarta, Surabaya, sampai ke Banyuwangi,” ujar Haedar.
Haedar menjelaskan, penguatan ekosistem bisnis Muhammadiyah menjadi bagian dari upaya memperkokoh gerakan Islam sekaligus mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW tentang keutamaan memberi dibanding menerima.
Semangat kemandirian itu kemudian mendorong berkembangnya berbagai Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.
“Kita harus bisa menghidupi diri sendiri. Tidak mungkin pendidikan kita, kesehatan kita, sosial kita itu kuat, kalau kita tidak mandiri,” kata Haedar.
Menurut Haedar, MBC diharapkan tidak berhenti sebagai wadah investasi. Kehadirannya juga diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjadi instrumen pendanaan jangka panjang untuk mendukung pengembangan AUM.
Melalui sistem angsuran berbasis emas, investasi tersebut diharapkan dapat mendukung pembangunan berbagai fasilitas Muhammadiyah, mulai dari sekolah, rumah sakit, hingga lembaga sosial.
“Bukan untuk melanggar dia. Tapi untuk umat, untuk masyarakat, untuk bangsa,” tutur Haedar.
Haedar menyebut kehadiran MBC sebagai salah satu langkah awal untuk memperkuat semangat kemandirian dan gerakan berkemajuan Muhammadiyah.
Menurutnya, Islam Berkemajuan tidak seharusnya berhenti pada retorika maupun gagasan normatif. Prinsip tersebut perlu diwujudkan melalui sistem, budaya, dan praktik nyata dalam kehidupan masyarakat.
Ia menilai pengembangan investasi berbasis emas menjadi bagian dari semangat pembaruan Muhammadiyah dalam mengimplementasikan ajaran Islam di tengah kehidupan masyarakat.
“Bahwa Islam itu agama yang mengurus dunia dan akhirat. Dan untuk sampai ke akhirat kita lewat dunia. Dan untuk dunia ini harus bangun keseimbangan,” ucap Haedar.
Sebagai bentuk komitmen terhadap kepercayaan masyarakat, Haedar menjadi pembeli pertama produk MBC.
Rangkaian peluncuran kemudian ditutup dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PT MBC dan sejumlah mitra perbankan, yakni Bank Syariah Indonesia (BSI), KB Bank Syariah, CIMB Niaga Syariah, dan Bank Syariah Nasional (BSN).
Acara tersebut juga dirangkaikan dengan peresmian gerai MBC yang berlokasi di Grha Suara Muhammadiyah.










Belum ada komentar