Pemkot Surabaya mulai mengoordinasikan rencana pemasangan alat sensor monitoring untuk memantau aktivitas sesar yang melintasi Kota Pahlawan.
Rencana tersebut dibahas bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai bagian dari upaya memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan koordinasi dengan ITS telah dilakukan untuk membahas kebutuhan alat sensor monitoring tersebut. Pembahasan juga mencakup lokasi yang nantinya dipertimbangkan sebagai tempat pemasangan.
“Kita sudah koordinasikan dengan teman-teman ITS terkait alat sensor ini,” kata Eri, Sabtu (12/9/2026).
Eri menjelaskan, keberadaan sesar di Surabaya bukan merupakan hal baru. Kota Pahlawan diketahui dilalui dua segmen sesar, yakni Sesar Surabaya dan Sesar Waru yang merupakan bagian dari sistem sesar di Pulau Jawa.
“Dari dulu sesar itu sudah ada ya. Ada Sesar Waru sama Sesar Surabaya. Ada yang melewati beberapa wilayah. Karena itu kemarin saya minta untuk Kepala BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) melakukan sosialisasi,” tuturnya.
Menurut Eri, penguatan pemantauan perlu berjalan beriringan dengan kesiapsiagaan masyarakat. Sosialisasi dilakukan agar warga memahami langkah yang harus dilakukan apabila sewaktu-waktu terjadi gempa.
“Nudzubillah min dzalik, kalau ada kejadian, maka evakuasinya seperti apa? Lari di mana? Itu sudah dilakukan Kepala BPBD. Karena memang Surabaya dilewati sesar dua itu, Sesar Surabaya dan Sesar Waru,” katanya.
Sementara itu, Kepala BPBD Kota Surabaya Irvan Widyanto mengimbau masyarakat agar tidak panik dengan keberadaan sesar di Kota Pahlawan.
Menurutnya, keberadaan sesar tidak berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat. Meski demikian, masyarakat tetap perlu memahami risiko yang mungkin muncul.
“Bukan berarti adanya sesar tersebut bakal terjadi gempa sekarang atau sebentar lagi. Tapi, masyarakat tetap penting untuk mengetahui risikonya,” kata Irvan.
Irvan menjelaskan, jalur sesar tersebut membentang panjang dari wilayah barat hingga timur Pulau Jawa. Di Jawa Timur, jalur tersebut dikenal sebagai Patahan atau Sesar Kendeng.
Sementara di Surabaya, Sesar Kendeng memiliki dua segmen, yakni Sesar Surabaya dan Sesar Waru.
Keberadaan dua segmen tersebut membuat pemahaman masyarakat terhadap risiko bencana dan kesiapsiagaan menjadi penting.
“Kesadaran terhadap risiko bencana perlu dibangun mulai dari setiap individu,” imbuhnya.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, Pemkot Surabaya melalui BPBD rutin melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai kedaruratan.
Kegiatan tersebut menyasar berbagai lingkungan di Kota Surabaya, mulai dari kawasan padat penduduk, sekolah hingga perkantoran.
Selain meningkatkan pemahaman masyarakat, Irvan mengingatkan warga agar memperoleh informasi mengenai gempa dan kebencanaan lainnya melalui sumber resmi.
Informasi tersebut antara lain dapat diperoleh melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta BPBD.
“Kita terus lakukan (sosialisasi), setiap hari kita berjalan. Diminta atau tidak diminta, kita jalan untuk melakukan mitigasi,” pungkasnya.










Belum ada komentar