Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Infrastruktur tersebut disiapkan sebagai solusi penyediaan air irigasi bagi lahan pertanian di tengah ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan memicu musim kemarau lebih panjang dan penurunan curah hujan.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan pembangunan JIAT merupakan bagian dari strategi pemerintah menjaga produktivitas pertanian di wilayah yang rawan mengalami kekeringan.
Menurutnya, pemanfaatan air tanah secara berkelanjutan memungkinkan petani tetap memiliki sumber air untuk bercocok tanam meski curah hujan menurun akibat El Nino.
“Air ini harus kita hemat dan kelola dengan baik. Saya minta agar jaringan tersier segera dibangun, sehingga air tidak terbuang dan bisa menjangkau lebih banyak sawah secara efisien,” kata Dody.
Salah satu JIAT yang telah beroperasi berada di Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Infrastruktur tersebut memiliki debit air 8 liter per detik dari sumur sedalam 57 meter dan mampu melayani lahan pertanian seluas sekitar 9 hektare.
Fasilitas tersebut dilengkapi jaringan pipa sepanjang 1.000 meter, 13 box bagi, reservoir berkapasitas 50 meter kubik, serta menggunakan panel surya sebagai sumber energi utama yang didukung pasokan listrik PLN sebagai cadangan.
Kepala Satuan Kerja NVT Air Tanah dan Air Baku Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II Djoniur Doga menjelaskan lokasi pembangunan JIAT ditetapkan berdasarkan usulan pemerintah daerah agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pembangunan sumur dimulai pada September 2025 dan selesai pada Desember 2025 sebagai bagian dari Program Instruksi Presiden yang membangun 18 titik JIAT di NTT.
“Puji Tuhan kami memperoleh debit air sekitar 8 liter per detik dari kedalaman sumur 57 meter. Dukungan masyarakat juga sangat besar, bahkan ada warga yang menghibahkan lahannya untuk pemasangan panel surya dan rumah pompa sehingga pekerjaan dapat berjalan dengan baik,” ujar Djoniur.
Selain menyediakan air irigasi, JIAT juga dilengkapi fasilitas penyediaan air bersih skala kecil bagi petani yang beraktivitas di sekitar lahan pertanian.
Djoniur mengatakan tantangan berikutnya adalah meningkatkan efisiensi penggunaan air melalui pendampingan kepada petani mengenai pola pemberian air yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.
“Tanaman sebenarnya tidak membutuhkan air berlebihan. Yang terpenting adalah bagaimana air digunakan secara hemat dan tepat sesuai kebutuhan tanaman. Karena itu kami berharap ada pendampingan dari sektor pertanian agar pemanfaatan JIAT semakin optimal,” katanya.
Salah seorang petani di Kelurahan Batuplat, Meike, mengaku keberadaan JIAT memberikan perubahan besar terhadap aktivitas pertanian.
Sebelum adanya jaringan irigasi tersebut, kebutuhan air hanya mengandalkan sumur gali sedalam sekitar delapan meter. Air diambil secara manual menggunakan ember sehingga membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup besar.
“Dulu kami gali sumur sekitar delapan meter. Airnya diambil pakai ember sedikit demi sedikit untuk menyiram tanaman. Kalau musim kemarau, air sangat terbatas sehingga kami hanya bisa panen satu kali dalam setahun,” ujarnya.
Setelah JIAT mulai beroperasi, pasokan air menjadi lebih stabil sehingga petani dapat meningkatkan intensitas tanam menjadi dua kali dalam setahun.
“Sekarang kami sangat bersyukur karena sudah ada air dari JIAT. Walaupun musim kering, kami tetap bisa menanam dan panen dua kali dalam setahun. Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pekerjaan Umum, dan BBWS NTT yang sudah membangun fasilitas ini. Kami berharap jaringan irigasi ini terus dimanfaatkan dengan baik sehingga semakin banyak petani yang merasakan manfaatnya,” kata Meike.
Hingga saat ini, BBWS Nusa Tenggara II mencatat telah membangun lebih dari 300 titik JIAT dan sekitar 1.600 infrastruktur air tanah dan air baku di seluruh wilayah NTT.
Pada 2026, Kementerian PU juga menyiapkan pembangunan empat titik JIAT baru, masing-masing dua titik di Kota Kupang dan dua titik di Kabupaten Malaka, sebagai langkah mengantisipasi dampak kekeringan.
Melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah yang terintegrasi dengan jaringan distribusi menuju lahan pertanian, Kementerian PU berharap ketersediaan air di wilayah kering seperti NTT semakin terjamin sehingga mampu menjaga produktivitas pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim.














Belum ada komentar