SURABAYA – Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat sistem pencegahan penyakit melalui integrasi data rekam medis elektronik berbasis konsep Satu Data Satu Peta. Program ini dirancang untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat secara menyeluruh dan berbasis data.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menjelaskan bahwa pengumpulan data dilakukan secara masif melalui 63 puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah kota.
“Dinas Kesehatan melalui 63 Puskesmas berjalan bersama. Kita turun ke seluruh wilayah kerja di Kota Surabaya dari Puskesmas untuk mengambil data,” kata dr Billy, Jumat (24/4/2026).
Ia menyebut, seluruh data kesehatan warga langsung diinput melalui aplikasi digital yang telah dikembangkan oleh pemerintah kota.
“Nah, aplikasi kita yang baru dibuat untuk merekam data pengambilan itu langsung dimasukkan lewat digital,” jelasnya.
Program ini dijalankan melalui skema Home Visit yang juga melibatkan Kader Surabaya Hebat (KSH) sebagai ujung tombak di lapangan.
“Nama programnya kita Home Visit. Nanti akan kita gandengkan juga dengan punyanya KSH (Kader Surabaya Hebat),” ujarnya.
Seluruh data yang dikumpulkan dari puskesmas akan terintegrasi dalam sistem pusat milik Dinkes Surabaya untuk dilakukan validasi dan analisis sebelum ditampilkan dalam dashboard.
“Dari 63 puskesmas akan bergabung di warehouse-nya Dinas Kesehatan untuk divalidasi, dievaluasi, dan dari sini akan keluar dashboard kita,” jelas dr Billy.
Selain puskesmas, integrasi juga mencakup rekam medis elektronik dari rumah sakit milik Pemkot Surabaya, di antaranya RSUD Bhakti Dharma Husada, RSUD dr. Mohamad Soewandhie, dan RSUD Eka Candrarini.
“Dan ini juga untuk Satu Data Satu Peta Kota Surabaya yang akan kita lengkapi. Sehingga kita punya rekam medik elektronik yang ada di tiga rumah sakit Kota Surabaya,” kata dia.
Data tersebut nantinya akan dipetakan berdasarkan jenis penyakit serta wilayah persebarannya, sehingga memudahkan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat secara lebih akurat.
“Jadi semua yang datang berobat di masing-masing rumah sakit itu kita kasih label. (misal pasien) hipertensi ini, kencing manis ini, sehingga waktu kita klik untuk mencari (data pasien) kita bisa lihat, oh ini kencing manis ada (wilayah) tersebar di mana. Itu output yang kita dapatkan,” imbuhnya.
Tak hanya untuk layanan kesehatan, data tersebut juga akan dimanfaatkan untuk kebutuhan riset akademik guna menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
“Sehingga kita menemukan solusi yang betul-betul akurat dari satu penelitian yang benar dan punya tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menekankan pentingnya integrasi rekam medis di seluruh rumah sakit di Kota Surabaya.
“Nanti semua direktur rumah sakit dikumpulkan, bentuk sebuah komunitas dokter atau rumah sakit. Nanti semua itu rekam medisnya muncul di situ,” ujar Wali Kota Eri.
Ia menilai sistem ini akan membantu pemetaan penyakit secara detail hingga tingkat wilayah.
“Jadi kita bisa memetakan. (Wilayah) ini sakit apa, wilayah yang sakit kencing manis di mana, wilayah sakit jantung di mana,” imbuhnya.
Selain itu, sistem ini juga memungkinkan pemerintah memantau kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, terutama bagi warga kurang mampu.
“Kalau ternyata dia tidak kontrol pada hari itu, maka tugas kami sebagai pemerintah turun ke rumahnya, kasih obat. Ya ini kenapa kami membutuhkan yang namanya rekam medis,” katanya.
Meski demikian, Wali Kota Eri memastikan bahwa data rekam medis tetap dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan layanan kesehatan.
“Rekam medis sifatnya rahasia, iya rahasia. Kalau disampaikan ke publik, itu yang salah, tapi kalau rekam medis itu masuk dalam koridor rumah sakit-rumah sakit, yang digunakan untuk pencegahan kesehatan itu diperbolehkan,” tegasnya.
Dengan sistem ini, Pemkot Surabaya menargetkan pencegahan penyakit dapat dilakukan lebih dini dan berbasis data yang akurat.
“Karena bagaimanapun pencegahan itu lebih bagus daripada ketika kita sakit,” pungkasnya.












Belum ada komentar