Surabaya – Wamendikdasmen Atip Latipulhayat melakukan kunjungan kerja ke Surabaya untuk memantau pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) jenjang sekolah dasar. Monitoring dilakukan di SD Insan Permata Hati (IPH) dan SDN Ketintang 1, Rabu (22/4/2026).
Kunjungan ini turut didampingi oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya yang memastikan seluruh proses berjalan optimal tanpa kendala berarti.
Dalam kesempatan tersebut, Ia menegaskan bahwa TKA menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Evaluasi yang terukur dinilai sangat diperlukan untuk mengetahui aspek yang perlu diperbaiki, mulai dari kompetensi guru hingga sarana prasarana.
“TKA ini menjadi salah satu instrumen evaluasi untuk mengetahui kekurangan yang perlu diperbaiki, mulai dari kompetensi guru, metode pembelajaran, hingga sarana prasarana,” ujar Wamendikdasmen Atip.
Ia menambahkan, tanpa adanya evaluasi yang jelas, peningkatan mutu pendidikan akan sulit dicapai. Karena itu, proses monitoring dan evaluasi harus terus dilakukan secara berkelanjutan.
Selain aspek akademik, perhatian juga diberikan pada kondisi lingkungan sekolah. Atip menilai lingkungan yang aman, sehat, bersih, dan indah (ASRI) berperan penting dalam mendukung kenyamanan belajar siswa.
“Lingkungan sekolah yang bersih dan sehat, termasuk sekolah ini, akan mendorong kenyamanan siswa dalam belajar. Hal ini tidak boleh berhenti pada slogan, melainkan harus diwujudkan dalam praktik sehari-hari,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dispendik Surabaya, Febrina Kusumawati, menyampaikan bahwa hasil peninjauan menunjukkan pelaksanaan TKA di Surabaya berjalan dengan baik.
“Beliau melihat langsung kesiapan pelaksanaan, berinteraksi dengan siswa, serta meninjau sarana prasarana. Hasilnya, pelaksanaan dinilai berjalan dengan baik,” kata Febri.
Selain memantau TKA, Wamendikdasmen juga meninjau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Ketintang 1. Dalam kunjungan tersebut, ia berdialog dengan siswa terkait menu makanan yang disajikan.
Menu yang diberikan dinilai telah memenuhi kebutuhan gizi, seperti kandungan protein, karbohidrat, hingga susu sebagai pelengkap nutrisi siswa.
Tak hanya itu, fasilitas pembelajaran berbasis teknologi seperti smart board juga menjadi perhatian. Penggunaan teknologi ini dinilai mampu meningkatkan interaksi dan pemahaman siswa dalam proses belajar.
“Beliau mendorong agar dukungan fasilitas ini terus diperluas. Tahun lalu setiap sekolah mendapat satu unit, dan ke depan diharapkan ada penambahan,” jelasnya.
Febri memastikan hingga hari ketiga pelaksanaan, TKA jenjang SD di Surabaya berlangsung lancar tanpa kendala berarti. Ia juga menegaskan bahwa TKA tidak bersifat wajib dan bukan penentu kelulusan siswa.
“Meski demikian, hasil TKA dapat dimanfaatkan sebagai tambahan poin bagi siswa yang melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi, baik dari SD ke SMP maupun SMP ke SMA,” terangnya.
Untuk jenjang SD, materi yang diujikan meliputi Matematika dan Bahasa Indonesia, serta dilengkapi dengan survei karakter dan lingkungan belajar. Hasilnya akan menjadi bahan evaluasi pemerintah pusat dalam merumuskan kebijakan pendidikan ke depan.
“Mayoritas siswa mengikuti TKA. Bagi yang berhalangan, seperti karena sakit, akan difasilitasi melalui jadwal susulan. Jadi orang tua tidak perlu khawatir,” pungkasnya.













Belum ada komentar