Peringatan HUT ke-28 PAN di Kabupaten Trenggalek tidak hanya menjadi momentum syukuran internal partai. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN Kabupaten Trenggalek juga memanfaatkannya untuk memperkuat silaturahmi dan kepedulian sosial melalui santunan kepada 23 anak yatim.
Kegiatan tersebut digelar di Kantor DPD PAN Trenggalek, Ahad (23/8/2026), dalam suasana kekeluargaan. Sejumlah tokoh Muhammadiyah, pengurus PAN, hingga para inisiator awal berdirinya PAN di Trenggalek turut hadir.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Trenggalek, Drs. H. Wicaksana, M.Pd.I., hadir sekaligus menyampaikan tausyiah. Turut hadir jajaran PDM Trenggalek, antara lain Dr. Suripto, Drs. Agus Tamami, Mujiarto, M.Pd., Gus Win, para pengurus DPD dan DPC PAN se-Trenggalek, Angkatan Muda Muhammadiyah, keluarga anak yatim, serta para pendiri dan inisiator PAN di Trenggalek.
Sebanyak 23 anak yatim beserta keluarga turut mengikuti kegiatan tersebut. Peringatan HUT ke-28 PAN itu sekaligus menjadi ruang untuk merawat hubungan antara PAN, Muhammadiyah, dan para tokoh yang sejak awal ikut membidani lahirnya PAN di Trenggalek.
Dalam tausyiahnya, Wicaksana mengingatkan bahwa aktivitas politik tidak seharusnya hanya dipandang sebagai sarana memperoleh kekuasaan. Menurutnya, politik juga perlu didorong oleh niat pengabdian dan ibadah.
Ia mengutip Al-Qur’an Surat Ash-Shaff ayat 4 yang menggambarkan pentingnya keteraturan dan kekuatan barisan dalam perjuangan.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur,” ujarnya.
Menurut Wicaksana, pesan tersebut memiliki relevansi dalam kehidupan organisasi dan politik. Sebuah perjuangan membutuhkan niat yang baik, kebersamaan, kedisiplinan, serta kesediaan untuk saling menguatkan.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengenang cerita yang pernah disampaikan almarhum Imam Supandi, mantan Bendahara PDM Trenggalek. Wicaksana mengutip ungkapan Jawa yang menggambarkan kuatnya ikatan emosional dan historis antara Muhammadiyah dan PAN.
“Pak Imam Supandi pernah mengatakan, meskipun PAN bercerai-berai dan menjauh dari Muhammadiyah, bagi beliau tego larane, ora tego patine,” tutur Wicaksana.
Menurutnya, dinamika politik tidak semestinya menghapus hubungan historis, emosional, dan kultural yang telah terbangun. Perbedaan pilihan maupun dinamika organisasi merupakan sesuatu yang wajar, tetapi persaudaraan dan semangat membangun kemaslahatan masyarakat tetap perlu dijaga.
Kehadiran sejumlah tokoh Muhammadiyah yang sejak awal menjadi bagian dari sejarah lahirnya PAN di Trenggalek turut memberi makna tersendiri dalam peringatan tersebut.
Salah satunya Drs. Agus Tamami, yang menjadi salah satu inisiator awal pembentukan PAN di Trenggalek. Pada masa itu, Agus Tamami berada di Majelis Tabligh PDM Trenggalek dan ditunjuk oleh Ketua PDM Trenggalek saat itu, KH. Yunus, untuk membuat surat undangan pembentukan dan pendirian PAN di Trenggalek.
Selain Agus Tamami, hadir pula Asep Hernawan yang juga menjadi salah satu inisiator awal PAN Trenggalek. Kini, Asep Hernawan dipercaya berada dalam struktur kepengurusan DPD PAN Trenggalek sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP).
Ketua DPD PAN Trenggalek, Suli Da’im, menyebut kehadiran Ketua dan jajaran PDM Trenggalek serta para pendiri dan inisiator PAN sebagai sebuah kehormatan sekaligus momentum untuk merawat sejarah.
“Saya bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ketua dan jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Trenggalek yang berkenan memenuhi undangan kami. Kami siap bersinergi. Begitu juga dengan para pendiri dan inisiator PAN yang masih berkenan hadir memberikan dukungan kepada Partai Amanat Nasional,” kata Suli Da’im.
Menurutnya, kegiatan tersebut sengaja dirancang tidak hanya sebagai seremoni ulang tahun partai, tetapi juga sebagai ruang silaturahmi untuk mempertemukan berbagai elemen yang memiliki sejarah dan perhatian terhadap perjalanan PAN di Trenggalek.
“Ruang ini menjadi ruang silaturahmi untuk senantiasa berkolaborasi. Politik harus menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat,” tegasnya.
Semangat kepedulian sosial juga menjadi bagian dari peringatan HUT ke-28 PAN di Trenggalek. Karena itu, kegiatan tasyakuran dipadukan dengan santunan kepada 23 anak yatim yang hadir bersama keluarga mereka.
“Kita ingin ulang tahun partai tidak hanya dirayakan secara internal, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama anak-anak yatim,” ujarnya.
Selain membahas kegiatan sosial, Suli Da’im juga menyampaikan perkembangan Kantor DPD PAN Trenggalek yang saat ini masih dalam proses perbaikan dan penataan.
Ia mengenang kondisi kantor sebelumnya yang memiliki keterbatasan fasilitas, khususnya lahan parkir.
“Dulu parkirnya hanya cukup untuk dua mobil. Sekarang Alhamdulillah bisa menampung sekitar sepuluh mobil. Di belakang juga sudah tersedia ruang rapat yang lebih luas,” jelasnya.
Setelah proses perbaikan selesai, Kantor DPD PAN Trenggalek diharapkan menjadi ruang yang lebih representatif untuk konsolidasi organisasi, menerima aspirasi masyarakat, serta membangun komunikasi dengan berbagai elemen.
“Insha Allah kantor ini nanti akan diresmikan bersamaan dengan pelantikan dan Rakerda DPD PAN Trenggalek pada awal September,” kata Suli Da’im.
Peringatan HUT ke-28 PAN di Trenggalek pun menjadi lebih dari sekadar agenda ulang tahun partai. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk meneguhkan politik sebagai jalan pengabdian, memperkuat kepedulian sosial, serta merawat hubungan historis dengan Muhammadiyah.
Di tengah dinamika politik yang terus berubah, silaturahmi dan kemanfaatan bagi masyarakat menjadi pesan yang mengemuka dalam peringatan tersebut.














Belum ada komentar